Anemia: Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Kontributor
Kontributor

Salsabila Mega Kencono Ganggi

Daftar Isi

Anemia tidak dapat dianggap sepele karena apabila penderita anemia tidak mendapatkan penanganan yang tepat maka anakn menimbulkan dampak berkepanjangan dan serius seperti, kelelahan, masalah jantung dan irama jantung (aritmia), gagal jantung, dan gangguan paru-paru, selain itu, apabila penderita anemia merupakan ibu hamil maka dapat menimbulkan risiko melahirkan bayi dalam kondisi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), cacat bawaan, dan stunting.

Menteri Kesehatan Ir. Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa remaja yang sehat merupakan investasi masa depan bangsa. Generasi muda memiliki peranan penting untuk melanjutkan estafet pembangunan dan perkembangan bangsa. Di tangan merekalah arah negata ini ditentukan.

Untuk itu kesehatan dan status gizi para remaja harus dipersiapkan sejak dini, sehingga prediksi Indonesia mendapatkan bonus demografi pada 2030 mendatang dapat menghasilkan generasi penerus bangsa yang produktif, kreatif dan berdaya saing. Salah satu masalah kesehatan yang menjadi fokus pemerintah adalah penanggulangan anemia pada remaja puteri.

Anemia merupakan masalah kesehatan yang menyebabkan penderitanya mengalami kelelahan, letih dan lesu sehingga akan berdampak pada kreativitas dan produktivitasnya. Tak hanya itu, anemia juga meningkatkan kerentanan penyakit pada saat dewasa serta melahirkan generasi yang bermasalah gizi.

Anemia masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan di Indonesia yang belum tertangani dengan baik. Lantas apakah yang dimaksud dengan anemia? Anemia merupakan keadaan dimana seseorang memiliki jumlah sel darah merah di bawah batas normal. Terdapat berbagai macam penyebab anemia seperti kekurangan zat gizi (besi, asam folat, dan vitamin B12) dan faktor nongizi seperti keturunan, polutan, infeksi, autoimun, malabsorpsi, dan penyakit kronis). Namun, penyebab yang paling sering terjadi adalah anemia akibat kekurangan zat besi.

Gejala yang dirasakan oleh penderita anemia antara lain letih, lemah, lesu, pusing, mata berkunang-kunang, dan wajah yang pucat. Selain itu, anemia pun dapat dialami oleh siapa pun tanpa memandang usia dan jenis kelamin. Namun, penderita anemia lebih sering dialami oleh wanita, terutama remaja putri dan ibu hamil. Hal ini disebabkan pada periode remaja dan kehamilan akan terjadi peningkatan kebutuhan zat gizi mikro.

Salah satu masalah yang dihadapi remaja Indonesia adalah masalah gizi mikronutrien, yakni sekitar 12% remaja laki-laki dan 23% remaja perempuan mengalami anemia, yang sebagian besar diakibatkan kekurangan zat besi (anemia defisiensi besi).

Anemia di kalangan remaja perempuan lebih tinggi dibanding remaja laki-laki. Anemia pada remaja berdampak buruk terhadap penurunan imunitas, konsentrasi, prestasi belajar, kebugaran remaja dan produktifitas.

Selain itu, secara khusus anemia yang dialami remaja putri akan berdampak lebih serius, mengingat mereka adalah para calon ibu yang akan hamil dan melahirkan seorang bayi, sehingga memperbesar risiko kematian ibu melahirkan, bayi lahir prematur dan berat bayi lahir rendah (BBLR).

Anemia dapat dihindari dengan konsumsi makanan tinggi zat besi, asam folat, vitamin A, vitamin C dan zink, dan pemberian tablet tambah darah (TTD). Pemerintah memiliki program rutin terkait pendistribusian TTD bagi wanita usia subur (WUS), termasuk remaja dan ibu hamil.

makan

Tanda Anemia

Gejala yang dirasakan oleh penderita anemia antara lain letih, lemah, lesu, pusing, mata berkunang-kunang, dan wajah yang pucat. Selain itu, anemia pun dapat dialami oleh siapa pun tanpa memandang usia dan jenis kelamin.

Namun, penderita anemia lebih sering dialami oleh wanita, terutama remaja putri dan ibu hamil. Hal ini disebabkan pada periode remaja dan kehamilan akan terjadi peningkatan kebutuhan zat gizi mikro.

Anemia tidak dapat dianggap sepele karena apabila penderita anemia tidak mendapatkan penanganan yang tepat maka anakn menimbulkan dampak berkepanjangan dan serius seperti, kelelahan, masalah jantung dan irama jantung (aritmia), gagal jantung, dan gangguan paru-paru, selain itu, apabila penderita anemia merupakan ibu hamil maka dapat menimbulkan risiko melahirkan bayi dalam kondisi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), cacat bawaan, dan stunting.

Bayi yang menderita BBLR akan lebih berisiko tumbuh dengan keadaan stunting dan berdampak pada terhambatnya perkembangan kognitif, motorik, dan verbal, serta berkurangnya kinerja intelektual yang akan menghasilkan generasi penerus berkualitas rendah.

Pangan untuk Cegah Anemia

Setelah mengetahui dampak yang dapat dialami oleh penderita anemia maka penanganan anemia secara tepat sangat diperlukan untuk mencegah atau menghindari dampak-dampak yang dapat ditimbulkan. 

Berikut ini merupakan beberapa cara untuk mengatasi anemia yaitu mengkonsumsi makanan tinggi sumber zat besi dari hewani maupun nabati (kerang, hati, kacang-kacangan, daging merah, sayuran hijau, ikan, sereal), mengkonsumsi sumber vitamin C (mangga, jambu, jeruk), asam folat (jeruk, lemon, pepaya, pisang, alpukat, tomat, sayuran hijau) dan mengkonsumsi suplemen TTD (Tablet Tambah Darah) secara berkala terutama saat sedang haid. Pemerintah memiliki program rutin terkait pendistribusian TTD bagi wanita usia subur (WUS), termasuk remaja dan ibu hamil.

Salah satu masalah yang dihadapi remaja Indonesia adalah masalah gizi mikronutrien, yakni sekitar 12% remaja laki-laki dan 23% remaja perempuan mengalami anemia, yang sebagian besar diakibatkan kekurangan zat besi (anemia defisiensi besi).

Anemia di kalangan remaja perempuan lebih tinggi dibanding remaja laki-laki. Anemia pada remaja berdampak buruk terhadap penurunan imunitas, konsentrasi, prestasi belajar, kebugaran remaja dan produktifitas.

Selain itu, secara khusus anemia yang dialami remaja putri akan berdampak lebih serius, mengingat mereka adalah para calon ibu yang akan hamil dan melahirkan seorang bayi, sehingga memperbesar risiko kematian ibu melahirkan, bayi lahir prematur dan berat bayi lahir rendah (BBLR).

Sumber:

  • Indartanti D, Kartini A. Hubungan Status Gizi Dengan Kejadian Anemia Pada Remaja Putri. Journal of Nutrition College. 2014;3(2):310-6.
  • Sholikhah AM, Mustar YS, Hariyanto A. Anemia di Kalangan Mahasiswa: Prevalensi dan Kaitannya Dengan Prestasi Akademik. Medical Technology and Public Health Journal. 2021;5(1):8-18.
  • Priyanto LD. Hubungan Umur, Tingkat Pendidikan, dan Aktivitas Fisik Santriwati Husada dengan Anemia. Jurnal Berkala Epidemiologi. 2018;6(2): 139-146) , (Hastuty M. Hubungan Anemia Ibu Hamil dengan Kejadian Stunting pada Balita di UPTD Puskesmas Kampar Tahun 2018. Jurnal Doppler. 2020;4(2): 112-116.
  • Sumber gambar: freepik.com
Editor
Editor

Asriadi Masnar

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on telegram