5 Peran Penting Mikrobiota Usus bagi Kesehatan!

Daftar Isi

“Sebelum mengurai secara rinci peran dan fungsi mikrobiota di perut (gut microbiome) bagi kesehatan kita, ada baiknya dong jika kita kenalan dulu sama mikrobiota ini. Para ahli bahkan mengatakan kalau kita lebih bakteri dibandingkan manusia”  

Mikrobiota adalah sekelompok mikroorganisme bersel satu, dapat berupa virus, bakteri, arkea, maupun fungi, yang tinggal di beberapa tempat di tubuh kita, seperti kulit, usus, vagina, mulut, rambut, dan berbagai tempat di sekeliling tubuh kita. Membahas mikrobiota di dalam perut berarti fokus pada peran dan fungsi mikroorganisme normal yang ada di dalam usus manusia. Nah apa saja 5 peran tersebut?

Mikrobiota Membantu Metabolisme Zat Gizi

Makanan dan bakteri usus berinteraksi memberikan efek kesehatan bagi tubuh manusia. Hasil fermentasi zat gizi makro menghasilkan senyawa asam lemak rantai pendek, seperti butirat, asetat, dan propionat yang berperan membantu metabolisme energi.

Selain itu, mikrobiota usus juga ikut terlibat dalam metabolisme lemak dengan mengatur aktivitas lipoprotein lipase di dalam adiposit. Fungsi utama dari enzim lipoprotein lipase adalah mencerna lemak dan lipid, mengatur tingkat sintesis lemak, serta merangsang terjadinya pemecahan lemak atau lipolisis. Metabolisme protein dan sintesis beberapa jenis vitamin juga melibatkan bakteri di dalam usus kita.

Memetabolisme xenobiotik dan obat

Mikrobiota dalam usus kita mampu mengurai berbagai macam senyawa asing (xenobiotik) yang masuk dalam tubuh kita. Bentuk xenobiotik yang paling banyak dan sering masuk dalam tubuh kita berasal dari obat-obatan. Bakteri usus kita memproduksi metabolit yang mampu mereduksi efek dari senyawa asing tersebut.

Bagi orang yang mengonsumsi obat-obatan, jika tidak memiliki mikrobiota normal pada orang dewasa, biasanya dapat menimbulkan efek negatif seperti, diare, peradangan, maupun anoreksia.

Memiliki efek perlindungan anti mikroba

Fitur anti mikroba bakteri usus adalah dengan cara menghalangi invasi bakteri dari luar sehingga kolonisasi atau pertumbuhan yang berlebihan dari bakteri patogen dapat dihindari. Bakteri usus memproduksi AMPs / peptida anti mikroba (RegIIIγ dan angiotensin-4) menghasilkan resistensi kolonisasi, memelihara penghalang epitel, dan meningkatkan metabolisme asam empedu.

Meningkatkan sistem imun

Mikrobiota usus berkontribusi pada imunomodulasi atau pengaturan sistem imun/kekebalan tubuh. Mikrobiota di saluran pencernaan ini berperan membentuk normal GALT (gut associated lymphoid tissue), yakni organ imunologi terbesar tubuh tempat penghasil antibodi Ig (khususnya IgA).

Meningkatkan integritas pelindung usus dan struktur saluran pencernaan

Keberadaan mikrobiota usus dalam menjaga struktur dan fungsi saluran pencernaan sangatlah penting untuk mencegah lewatnya bakteri komensal, patogen, dan antigen makanan dari lumen ke jaringan usus dan sirkulasi sistemik. Adanya kontak antara bakteri patogen dengan tubuh manusia dapat menyebabkan peradangan sistemik tingkat rendah yang mengarah pada terjadinya beberapa penyakit.

Penelitian terbaru bahkan menunjukkan bahwa peningkatan permeabilitas usus (kemampuan meloloskan partikel dengan menembusnya) atau bisa dikatakan kepadatan usus dapat mengurangi aktivasi sel T islet-reaktif di usus yang menjadi penyebab diabetes tipe 1.

Tentu masih banyak manfaat yang diperoleh manusia dengan keberadaan makhluk super kecil ini di dalam tubuh kita. Dengan demikian, sangatlah perlu untuk menjaga atau mempertahankan mikrobiota usus normal yang kaya dengan bakteri-bakteri baik melalui makan-makanan yang bergizi.

Makanan bergizi akan mendorong kerja mikrobiota usus dengan cara memanfaatkan hasil cerna makanan tersebut untuk difermentasi dan menghasilkan komponen bioaktif yang bermanfaat.

Namun, perlu diketahui bahwa meskipun komposisi mikrobiota usus orang dewasa dipengaruhi asupan makanan terdapat beberapa faktor lain yang mendorong variasi mikrobiota usus yang normal, diantaranya usia, penggunaan antibiotik, dan konsumsi suplemen pro- dan pre-biotik.

Beberapa studi memperlihatkan perubahan komposisi mikrobiota manusia seiring perubahan usianya. Perubahan paling cepat dialami anak usia 0-2 tahun. Setelah itu, komposisinya cenderung stabil. Memasuki fase lansia, terjadi pula penurunan keanekaragaman komposisi mikrobiota, dan uniknya, sejalan dengan penurunan daya tahan tubuh. Hal ini berarti, antara mikrobiota usus dan sistem imun saling berinteraksi.

Nah, jadi kita sudah tahu ya betapa besarnya peran organisme kecil ini, maka mulai dari sekarang kita harus membiasakan “hidup bersama” dengan mereka agar mereka bisa betah memberi hal positif bagi tubuh kita.

Editor
Editor

Nurbaya

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on telegram