buah

Jus Buah vs Buah Segar, Pilih Mana?

Daftar Isi

“COVID-19 masih menjadi ancaman yang meresahkan masyarakat Indonesia. Berbagai penelitian untuk menemukan vaksinnya masih terus dilakukan. Paling tidak sampai vaksin COVID-19 ditemukan, setiap individu berkewajiban untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk mengonsumsi buah-buahan yang dapat meningkatkan daya tahun tubuh.”

Hasil survei Firmenich dalam laporan GDP Venture menunjukkan adanya perubahan konsumsi masyarakat Indonesia semenjak pandemi COVID-19, di mana persentase peningkatan konsumsi buah segar menduduk posisi tertinggi (62%). Selain itu, konsumsi jus semakin banyak diminati dengan tambahan konsumsi sebesar 28%. Sebaliknya, konsumsi minuman karbonasi dan beralkohol, konfeksioneri (makanan yang tinggi kandungan gula dan karbohidrat), dessert, serta produk makanan olahan cenderung berkurang.

Kesadaran masyarakat untuk mengubah pola makan menjadi lebih sehat tentu menjadi hal positif yang patutdiapresiasi. Buah segar mengandung berbagai vitamin, mineral, serat serta zat gizi lainnya yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Akan tetapi, ketika mengonsumsi sayur dan buah dalam bentuk minuman jus buah masih menjadi perdebatan. Apakah minum jus buah sama bergizinya dengan makan buah segar secara utuh?

Alasan Mengonsumsi Jus Buah

Tentu, kepraktisan menjadi salah satu daya alasan kuat mengapa orang-orang mengonsumsi jus buah. Dibandingkan dengan buah utuh, jus buah lebih mudah untuk dikonsumsi dan disimpan. Ditambah lagi rasanya yang menyegarkan menjadi kombinasi yang nikmat untuk menemani hidangan makanan. Jus buah juga bisa dikombinasikan dengan produk-produk lain untuk menambah kenikmatannya, seperti susu, gula, sirup, maupun es krim juga menjadikan alasan orang sering mengonsumsi jus buah. Namun perlu diketahui bahwa dalam proses pengolahan untuk menghasilkan jus buah, sangat rentan kehilangan kandungan beberapa zat gizi, misalnya vitamin C.

Vitamin C merupakan salah satu vitamin larut air yang memiliki banyak manfaat bagi tubuh, yaitu antara lain berperan dalam pembentukan kolagen, memperkuat kulit, meningkatkan sistem imun, berfungsi sebagai antioksidan serta membantu penyerapan zat besi dalam tubuh. Akan tetapi, vitamin C memiliki sifat mudah rusak oleh suhu panas. Putaran mata pisau mesin blender dan juicer pada proses blending dan juicing dalam pembuatan jus buah ternyata menimbulkan panas, sehingga menyebabkan penurunan kadar vitamin C pada jus buah.

Proses pembuatan jus buah juga dapat menyebabkan penurunan kadar serat hingga 20-60% dari buah asalnya. Padahal, serat yang terkandung di dalam buah utuh akan membantu tubuh merasa kenyang lebih lama sehingga mencegah asupan makanan berlebih. Serat juga bermanfaat dalam mengontrol kadar gula darah, menurunkan kolesterol dalam darah serta menjaga kesehatan organ pencernaan.

Selain karena kandungan serat, penelitian juga menunjukkan bahwa rasa kenyang dapat dipengaruhi oleh bentuk makanan. Makanan yang lebih padat akan membutuhkan lebih banyak kunyahan sebelum siap untuk ditelan. Semakin banyak proses mengunyah yang dilakukan, ternyata dapat meningkatkan produksi hormon pemicu rasa kenyang (kolesistokinin), serta menurunkan produksi hormon pemicu rasa lapar (ghrelin). Konsumsi jus buah tidak memerlukan proses mengunyah, sehingga tidak menimbulkan rasa kenyang dibandingkan dengan konsumsi buah utuh.

Baca juga: Makanan Anti Galau

Lalu bagaimana dengan cold-pressed juice yang belakangan ini sedang banyak diminati?

Cold-pressed juice merupakan jus yang diperoleh dengan mengekstrak buah menggunakan tekanan hidrolik dengan kecepatan sangat lambat. Metode ini hanya menghasilkan sedikit sekali panas, sehingga seringkali diklaim dapat mempertahankan kandungan zat gizi pada jus dibandingkan jus hasil penggunaan mesin juicer dan blender biasa. Namun, ternyata terdapat hasil penelitian yang tidak menemukan adanya perbedaan kandungan zat gizi yang berarti antara ketiganya. Oleh karena itu, klaim tentang keunggulan cold-pressed juice tersebut masih memerlukan pembuktian lebih lanjut.

Jus buah memang dapat dijadikan pilihan ketika sedang menginginkan penghilang dahaga yang rasanya nikmat dan menyegarkan. Namun ketika kandungan zat gizi menjadi tujuan utama yang dicari, akan lebih banyak manfaat bagi kesehatan yang diperoleh dari makan buah segar secara utuh. Jadi, mau pilih yang mana?

Sumber:

  • Choi, A., Ha, K., Joung, H., Song, Y. (2019). Frequency of Consumption of Whole Fruit, Not Fruit Juice, Is Associated with Reduced Prevalence of Obesity in Korean Adults. Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics 119(11), 1842-1851
  • Flood-Obbagy, Julie E., Rolls, Barbara J. (2009). The effect of fruit in different forms on energy intake and satiety at a meal. Appetite 52(2), 416-422
  • Gabriel, Alonzo A., Usero, Joanna Marie Carla L., Rodriguez, Kimberly J., Diaz, Angelo R., Tiangson Bayaga, Cecile Leah P. (2015). Estimation of ascorbic acid reduction in heated simulated fruit juice systems using predictive model equations. LWT – Food Science and Technology 64(2), 1163-1170
  • GDP Venture. (2020). The Impact of COVID-19 Pandemic. http://thecitymaker.flywheelsites.com/wp-content/uploads/2020/04/200428-GDP-COVID19-Insight.pdf (diakses tanggal 30 September 2020)
  • Hollis, James H. (2018). The effect of mastication on food intake, satiety and body weight. Physiology & Behavior 193, 242-245
  • Khaksar, G., Assataraku, K., Sirikantaramas, S. (2019). Effect of cold-pressed and normal centrifugal juicing on quality attributes of fresh juices: do cold-pressed juices harbor a superior nutritional quality and antioxidant capacity?. Heliyon 5(6), 1-10
  • Sartorelli, D.S., Franco, L.J., Gimeno, S.G.A., Ferreira, S.R.G., Cardoso, M.A. (2019). Dietary fructose, fruits, fruit juices and glucose tolerance status in Japanese-Brazilians. Nutrition, Metabolism & Cardiovascular Diseases 19(2), 77-83
  • Schlueter, Amanda K., Johnston, Carol S. (2011). Vitamin C: Overview and Update. Journal of Evidence-Based Complementary & Alternative Medicine 16(1), 49-57
  • Yegin, S., Kopec, A., Kitts, David D., Zawistowski, J. (2020). Dietary fiber: a functional food ingredient with physiological benefits. In Preuss, Harry G. & Bagchi, D (Eds.), Dietary Sugar, Salt and Fat in Human Health (pp. 531-555). Massachusetts: Academic Press
  • Sumber gambar: https://freepik.com
Editor
Editor

Andi Imam Arundhana

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on telegram

Baca juga artikel kami yang lain: