imunisasi

Sadar Pentingnya Imunisasi, Jepang Menggratiskan 9 Jenis Vaksin

Daftar Isi

“Jepang tidak mengenal “No Shot, No School” yakni anak yang tidak diberi imunisasi, tidak boleh bersekolah, tetapi pihak sekolah tetap membahas riwayat imunisasi  anak, sehingga membuat orang tua menjadi risih.”

Setiap tahun, lebih dari 5 juta anak balita meninggal karena tidak mendapatkan vaksin. Persoalan akses ke fasilitas kesehatan, persepsi tentang imunisasi, bahkan isu politik sering menjadikan balita malang tersebut tidak memperoleh haknya.

Padahal, pemberian vaksin merupakan langkah yang tepat untuk mencegah berbagai penyakit infeksi penyebab stunting dan kematian pada balita. Selain itu, makin hari penyebaran virus makin susah dikontrol karena tingkat mobilitas yang tinggi.

Balita, sebagai kelompok usia yang sangat rentan terserang virus, tidak cukup siap jika hanya diberikan asupan yang sehat. Menyadari hal ini, seluruh negara berusaha mengantisipasi warganya terinfeksi virus dengan mewajibkan terlaksananya imunisasi.

Demikian halnya di Jepang, yang memperoleh predikat rangking satu atas pencapaiannya di bidang kesehatan oleh organisasi kesehatan dunia. Meskipun cakupan imunisasinya belum mencapai 100%, tetapi usaha yang dilakukan pemerintah Jepang sangat maksimal agar mencakup seluruh anak mendapatkan imunisasi.

vaksin
Bawa anak ke klinik untuk mendapatkan vaksin imunisasi

Seperti Apa Bentuk Dukungan Pemerintah Jepang Terkait Imunisasi?

Sebagai negara pariwisata, Jepang belum bisa mengontrol status kesehatan para turis yang datang. Terlebih jika turis tersebut dalam kondisi sehat, yang artinya meski tidak terlihat namun bisa saja turis tersebut membawa virus. Meski demikian, anjuran imunisasi kepada seluruh penduduk di Jepang untuk membentengi diri dari virus telah dilakukan oleh pemerintah. Selain menghindari penyebaran virus, imunisasi juga diharapkan sebagai perisai jika ingin ke negara lain.

Seperti Indonesia, Jepang juga memiliki vaksin yang bersubsidi dan yang tidak bersubsidi. Vaksin bersubsidi adalah vaksin wajib dan perlu karena pertimbangan tingginya kejadian penyakit tanpa jenis vaksin tersebut. Setidaknya ada 10 jenis vaksin yaitu BCG, PCV, DTP-IPV, MR, Japanese Encephalitis, Chickenpox, Hib, HPV, Hepatitis B hingga Rotavirus.

Vaksin non-subsidi adalah vaksin yang tidak wajib. Meski pemerintah Jepang tidak mewajibkan, namun masyarakat Jepang tetap merasa perlu melakukan vaksin ini untuk menghindari terjadinya penyakit tertentu seperti influenza musiman, Mumps, Hepatitis A dan Meningococcus. Namun kebijakan ini tidak sama di setiap wilayah di Jepang, tergantung angka kejadian penyakit dan anggaran di tiap wilayah tersebut.

Namun berbeda dengan negara maju lainnya, Jepang tidak menerapkan aturan “No Shot, No School” bagi warganya. Mengapa?

Karena tanpa aturan tersebut, warga Jepang sendiri merasa segan jika memasukkan anaknya ke sekolah tanpa memiliki riwayat imunisasi. Para orang tua yang tidak memberikan anaknya imunisasi akan merasa was-was anak mereka akan menularkan virus pada anak lain. Sebaliknya orang tua yang memberikan anaknya imunisasi akan takut terhadap anak lain yang tidak menerima imunisasi.

Lalu Bagaimana dengan Anak-anak yang Berasal dari Luar Jepang?

Untuk anak-anak yang datang ke Jepang dan akan tinggal dalam waktu lama di Jepang, Pemerintah mewajibkan orang tua untuk melaporkan riwayat imunisasi anak yang telah diterima dari negara asal. Selanjutnya, pihak kesehatan akan menyesuaikan vaksin-vaksin apa yang telah diterima oleh anak dan apa yang belum.

Anak-anak dari Indonesia hanya mendapatkan 5 jenis vaksin bersubsidi oleh Pemerintah Indonesia. Selebihnya jika ingin mendapatkan vaksin misalnya rotavirus, orang tua harus bersedia membayar mahal. Namun beruntungnya, pemerintah Jepang akan melengkapi imunisasi anak tersebut sesuai aturan yang berlaku, yakni memenuhi pemberian vaksin bersubsidi dan menyarankan pemberian vaksin non-subsidi.

Hingga berusia 6 tahun, anak yang tinggal di Jepang akan mendapatkan surat panggilan  cek kesehatan secara menyeluruh dari kantor wilayah setempat. Dari pemeriksaan tersebut, akan ketahuan riwayat imunisasi anak, sehingga secara tidak langsung pemberian imunisasi kepada anak adalah hal yang harus dipenuhi.

Sumber:

  • Sakanishi, Y., Yamamoto, Y., Hara, M., Fukumori, N., Goto, Y., Kusaba, T., Tanaka, K., Sugioka, T., & Fukuhara, S. (2018). Public subsidies and the recommendation of child vaccines among primary care physicians: A nationwide cross-sectional study in Japan. BMJ Open, 8(7), 1–8. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2017-020923
  • Sugishita, Y., Kurita, J., Akagi, T., Sugawara, T., & Ohkusa, Y. (2019). Determinants of vaccination coverage for the second dose of measles-rubella vaccine in Tokyo, Japan. Tohoku Journal of Experimental Medicine, 249(4), 265–273. https://doi.org/10.1620/tjem.249.265
  • Tobe, R. G., Fuji, H., Metoki, H., Ehara, A., Kato, T., Ebara, H., Nishida, T., Kobashi, G., & Mori, R. (2019). Perspectives of value-based policy making in child health care in Japan. Annals of Translational Medicine, 7(6), 126–126. https://doi.org/10.21037/atm.2018.11.52
  • Sumber Gambar: https://freepik.com
Editor
Editor

Nurbaya

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on telegram

Baca juga artikel kami yang lain: