COVID-19

Vitamin D dan Imunitas Selama Pandemi COVID-19

“COVID-19 telah menjadi ancaman di seluruh dunia, namun hingga saat ini cara untuk mengatasinya adalah dengan memperkuat pertahanan tubuh kita. Banyak cara yang bisa dilakukan, salah satunya adalah dengan mengonsumsi zat gizi mikro yang spesifik untuk sistem imun”

Virus corona 2 (SARS-CoV-2) penyebab COVID-19 ini dapat menyebar melalui droplet atau percikan, kontak fisik antar individu dan benda yang terpapar virus tersebut. Virus ini menyebar sangat cepat, menginfeksi hampir ke seluruh dunia dan jumlah kasus meningkat secara tajam khususnya di Indonesia.

Meskipun sudah banyak penelitian untuk pengobatan dan vaksinasi COVID-19, namun belum ada yang terbukti berguna untuk mengobati penyakit ini. Hingga vaksin COVID-19 ditemukan, WHO menganjurkan pencegahan COVID-19 melalui penggunaan masker, cuci tangan secara rutin menggunakan sabun atau cairan berbahan alkohol, dan jaga jarak dengan orang sekitar. Selain itu, kita juga dapat menambah perlindungan diri dengan mengkonsumsi makanan bergizi dan seimbang.

Vitamin D sebagai Vitamin “Sinar Matahari”

Salah satu asupan vitamin yang dapat membantu meningkatkan imunitas tubuh adalah Vitamin D. Vitamin larut lemak ini dapat dibagi menjadi Vitamin D2 dan D3. Salah satu perbedaan antara kedua jenis vitamin D ini dapat dilihat dari sumber makanannya.

Vitamin D2 berasal dari tanaman, sedangkan Vitamin D3 dari hewan. Status Vitamin D dalam tubuh diukur melalui kadar vitamin 25(OH)D (Salah satu bentuk Vitamin D). Disebut kekurangan vitamin D ketika kadar Vitamin D dalam tubuh kurang dari 25 nmol/L atau kurang dari 10 ng/mL.

Walaupun kita tinggal di negara tropis tetapi hal tersebut tidak menjamin kita untuk memperoleh jumlah Vitamin D yang cukup. Penggunaan tabir surya atau pakaian tertutup dapat menghalangi paparan sinar UVB. Selain itu, pemilik warna kulit gelap, usia tua dan obesitas memiliki risiko kekurangan Vitamin D.

Dengan bertambahnya usia, kadar Vitamin D aktif menurun karena berkurangnya produksi 7-dehidrokolesterol di kulit. Hal ini mungkin menjadi penyebab angka kematian COVID-19 lebih tinggi pada orang tua. Meskipun demikian, pendapat ini masih perlu pembuktian lebih jauh melalui penelitian.

Vitamin D, imunitas, dan COVID-19

Vitamin D memiliki fungsi yang beragam bagi tubuh seperti untuk kesehatan tulang dan gigi. Ketika kadar kalsium dalam darah berkurang maka kelenjar paratiroid akan merangsang usus dan ginjal untuk memproduksi Vitamin D guna menyerap kalsium lebih banyak. Kalsium sendiri merupakan mineral yang dibutuhkan untuk kesehatan tunggal dan gigi.

Beberapa studi klinis mendukung bahwa Vitamin D dapat menurunkan risiko infeksi saluran pernafasan dan berpotensi mengurangi infeksi COVID-19 karena salah satu fungsi penting Vitamin D adalah berperan dalam proses imun bawaan (innate immunity) dan imun adaptif (adaptive immunity).  Vitamin D dapat menekan produksi sitokin (protein yang berperan sebagai penanda sinyal sel) proinflamasi dan menghambat sitokin yang bersifat anti inflamasi.

Virus SARS-CoV-2 yang masuk ke dalam tubuh, menginfeksi sel epitel alveolar manusia (pertahanan pertama paru-paru dalam melawan lingkungan eksternal), mengaktifkan sistem imun bawaan dan adaptif dan mengakibatkan timbulnya sindrom pelepasan sitokin. Tingkat sitokin tidak terkontrol yang dilepaskan kemudian mengaktifkan lebih banyak sel imun, hal ini disebut badai sitokin (cytokine storm).

Sel-sel imun tersebut menyusup ke paru-paru dan memulai reaksi inflamasi yang signifikan. Hal ini bisa menyebabkan pembuluh darah kecil di paru-paru mengeluarkan cairan dan mengisi alveoli (tempat pertukaran oksigen dan karbondioksida), menyulitkan oksigen masuk ke aliran darah untuk dikirim ke organ-organ tubuh. Pada kondisi ini, pasien merasakan kesulitan bernafas dan membutuhkan dukungan alat pernafasan (ventilator).

Cegah penyebaran COVID-19 (https://fk.unand.ac.id/id/berita/covid-19/data-dan-infografis.html)

Walaupun kita dianjurkan untuk tinggal di dalam rumah selama wabah COVID-19, tetapi kita juga perlu berjemur dengan jumlah waktu yang sesuai agar terhindari dari risiko kekurangan Vitamin D. Sebagian besar Vitamin D dapat diperoleh melalui produksi 7-dehidrokolesterol yang berasal dari kulit melalui paparan sinar matahari (UVB).

Akan tetapi, menambah kebutuhan Vitamin D melalui konsumsi makanan akan lebih baik. Vitamin D2 ditemukan pada sumber makanan  nabati seperti jamur yang terkena paparan sinar matahari sedangkan Vitamin D3 ditemukan pada sumber makanan hewani seperti ikan salmon, mackerel, tuna, minyak ikan cod dan susu serta makanan fortifikasi Vitamin D atau suplementasi Vitamin D. Kebutuhan Vitamin D menurut AKG (Angka Kecukupan Gizi) berkisar 600 IU dan dianjurkan untuk tidak melebihi 4000 IU.

Berdasarkan hasil studi yang ada, Vitamin D patut dipertimbangkan sebagai terapi untuk mengobati dan mencegah COVID-19 namun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk membuktikan bahwa konsumsi Vitamin D dapat menurunkan risiko COVID-19. Tentunya selama menunggu ketersediaan obat COVID-19, kita tetap harus mawas diri dan menerapakan protokol pencegahan yang dianjurkan pemerintah dan lembaga kesehatan yang ada.

Sumber:

  • Shakoor et al., 2020. Immune-Boosting Role of Vitamins D, C, E, Zinc, Selenium and Omega-3 Fatty Acids: Could They Help Against COVID-19?. Maturitas (2020). https://doi.org/10.1016/j.maturitas.2020.08.003
  • Calder P.C., 2020. Nutrition, Immunity and COVID-19. BMJ Nutrition, Prevention & Health 2020;3:e000085. doi:10.1136/bmjnph-2020-000085.
  • Kohlmeier M., 2020. Avoidance of Vitamin D Deficiency to Slow the COVID-19 Pandemic. BMJ Nutrition, Prevention & Health 2020;3:e000096. doi:10.1136/bmjnph-2020-000096.
  • Calder et al., 2020. Optimal Nutritional Status for a Well-Functioning Immune System Is an Important Factor to Protect against Viral Infections. Nutrients 2020, 12, 1181; doi:10.3390/
  • Namayandeh S.M., 2020. Vitamin D and Coronavirus Disease (COVID-19); Is Deficiency and Maintenance Supplementation Therapy Necessary?. Journal of Nutrition and Food Security (JNFS), 2020; 5 (3): 187-191.
  • Sumber gambar: https://freepik.com & https://fk.unand.ac.id/id/berita/covid-19/data-dan-infografis.html
Editor
Editor

Nurbaya

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on telegram

Baca juga artikel kami yang lain: