diet autis

Bagaimana Diet untuk Anak Autis?

Daftar Isi

Autisme atau Autism spectrum disorder (ASD) adalah suatu keadaan yang diakibatkan oleh gangguan sistem saraf dan keadaan ini biasanya terjadi pada tiga tahun pertama kehidupan anak.”

Gejala autisme tidak tampak secara jelas karena anak terlihat normal. Meskipun begitu, masih ada beberapa ciri fundamental dari perkembangannya yang terhambat, seperti kesulitan dalam berkomunikasi, memiliki obsesi yang berlebihan terhadap sesuatu, dan sulit mengontrol emosi.

diet untuk anak autis

Anak yang mengalami autisme juga dapat mengalami diare, kesulitan tidur, dan perilaku yang berbeda dari anak lainnya. Masalah yang dihadapi oleh sebagian orang tua adalah anak autis yang cenderung picky-eater atau sangat pemilih dalam makanan. Dalam Pemenuhan kebutuhan gizi anak terutama karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral tentunya membutuhkan diet yang tepat untuk pertumbuhan dan perkembangannya.

DIET GFCF (Gluten Free/Casein Free)

Diet GFCF adalah diet bebas gluten dan kasein yang diterapkan kepada anak. Semua makanan yang terbuat dari gandum mengandung gluten. Contoh makanan yang tinggi gluten adalah mi, pasta, roti, dan sereal. Sebagai pengganti tepung terigu, anak dapat diberikan tepung beras atau tepung maizena. Namun, jika tetap ingin menggunakan tepung terigu, maka pilihlah tepung terigu bebas gluten yang tersedia di supermarket.

Kasein adalah protein yang ditemukan pada susu atau olahannya dan laktosa. Walaupun tidak didapatkan dari susu sapi, kebutuhan zat gizi anak akan kalsium dan vitamin D harus terpenuhi untuk perkembangan tulang dan gigi. Selain susu, kalsium dan vitamin D yang terdapat di sayuran hijau atau kacang-kacangan.

Beberapa makanan olahan seperti kukis, keik, atau produk olahan lainnya dapat mengandung susu atau tepung terigu. Maka dari itu, perlu untuk membaca deskripsi dan nilai gizi pada suatu kemasan. Opsi lainnya, seperti susu kedelai atau susu beras dapat menjadi pilihan jika anak tidak memiliki alergi terhadap kacang-kacangan.

Bagaimana Jika Anak Mengonsumsi Gluten dan Kasein?

Kini yang menjadi pertanyaannya, “Apa yang terjadi jika anak mengonsumsi makanan yang mengandung gluten dan kasein?” Perlu diketahui, pencernaan anak berkebutuhan khusus berbeda dari orang yang normal. Kasein atau gluten yang masuk ke dalam tubuh tidak tercerna dengan baik oleh usus dan dalam bentuk gluteo dan caseomorphin beredar ke aliran darah yang menuju ke otak. Terdapat reseptor dalam otak yang berhubungan dengan emosi dan perilaku anak, yakni reseptor opioid. Zat gluteo dan casemorphin yang menempel pada reseptor opioid akan bereaksi menunjukkan gejala dan kelainan perilaku anak.

Saran untuk orang tua adalah perhatikan setiap makanan yang akan dikonsumsi, lebih baik memberikan makanan yang dibuat sendiri di rumah dan yang terpenting adalah mengurangi kadar makanan kemasan agar lebih aman. Sayuran dan buah-buahan sangat baik untuk anak. Konsultasikan terkait diet ini pada ahli gizi, karena setiap anak memiliki reaksi yang berbeda terhadap bahan makanan yang diberikan.

Sumber:

  • Wright, C. W. (2007). How to Live with Autism and Asperger Syndrome, Strategi Praktis bagi Orang Tua dan Guru Anak Autis. Jakarta: Dian Rakyat
  • Tarwiyah, H. (2017). Hubungan Frekuensi Konsumsi Bahan Makanan Sumber Gluten dan Kasein dengan Perilaku Autistik Anak Autis Usia 5-12 Tahun. Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta
  • Hurwitz, Sarah. (2013). The Gluten-Free, Casein-Free Diet and Autism. Journal of Early Intervention.
  • Sumber Gambar: https://freepik.com
Editor
Editor

Andi Imam Arundhana

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on telegram

Baca juga artikel kami yang lain: