pangan

Pangan: Peningkatan Kandungan Gizi, Keamanan dan Inovasi

Eko Sutrisno
Eko Sutrisno

Alumni Universitas Islam Majapahit

Daftar Isi

Gizi yang dikonsumsi oleh masyarakat sebenarnya sudah mengalami kenaikan dari 77,5 (2003) menjadi 82,8 (2007) berdasarkan skor mutu gizi pangan (PPH), tetapi Kemenkes RI menyebutkan bahwa 1 dari 4 balita di Indonesia mengalami stunting. Hasil penelitian menyatakan bahwa beberapa jenis umbi umbi-umbian seperti Ubi Kelapa, Gembili, Keladi, Talas, Ganyong, Garut dan Suweg dapat digunakan sebagai sumber karbihidrat. 

Mutu Pangan dan Pedomannya

Mutu makanan merupakan kepuasan konsumen pada suatu produk pangan yang dihasilkan oleh produsen dan telah memenuhi kriteria yang ditentukan. Secara kasat mata, produk pangan yang baik telah memenuhi unsur indra/sensori, seperti kerenyahan, kelembutan, kekentalan atau kekenyalan, bau, aroma, rasa dan warna. Produk olahan pangan juga harus bebas dari senyawa kimia berbahaya (logam–logam berat) dan tidak mengandung bakteri Eschericia coli dan bakteri berbahaya lainnya. 

Meningkatnya kesadaran akan pentingnya mutu makanan, maka munculnya beberapa aturan dalam produksi olahan pangan, diantaranya yaitu CPMB atau Cara Produksi Makanan yang Baik atau lebih dikenal dengan istilah GMP (Good Manufacturing Practices) dan HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point). Adanya aturan tersebut, minimal kebutuhan tentang:

1) Keamanan pangan (food safety) saat proses produksi dapat terpenuhi sehingga mengurangi hal-hal yang dapat menimbulkan penyakit karena adanya zat kimia, fisika dan biologi ikut terbawa oleh bahan olahan pangan.

2) Menjamin bahan pangan tidak terkontaminasi sehingga kesehatan dan kebersihan pangan (whole-someness) lebih terjamin.

3). Mengurangi atau bahkan meniadakan kecurangan yang dilakukan oleh produsen kepada konsumen, misalnya pemalsuan bahan baku, penggunaan bahan tambahan yang berlebihan, berat yang tidak sesuai dengan label, “overglazing” dan jumlah yang kurang dalam kemasan. 

Regulasi Distribusi Pangan

Peningkatan mutu gizi pangan dilakukan untuk meningkatkan ketersediaannya sebagai sumber zat gizi melalui beberapa cara Fortifikasi dan Enrichment (pengkayaan), restoration, nutrification yaitu proses penambahan atau penggantian mikronutrien atau unsur-unsur tertentu seperti vitamin terhadap bahan pangan agar nilai gizinya lebih tinggi daripada sebelumnya sesuai standar yang telah ditetapkan secara nasional dan internasional. Standar yang digunakan bisa menggunakan international yaitu ISO seri 9000 sampai dengan ISO-9004, ISO 22000 dan ISO 14000 (EMS) untuk menjamin produk pangan yang berwawasan lingkungan. 

Pengawasan mutu untuk produksi olahan makanan skala rumah tangga atau UMKM bisa melalui izin dinas Kesehatan setempat sehingga munculnya ijin informasi P-IRT bisa ditempelkan pada kemasan produk. Selain dari dinas Kesehatan, label keamanan pangan juga bisa diperoleh dari Lembaga BPOM dan MUI untuk label halal. 

Saat ini, banyak produk olahan pangan yang beredar di masyarakat walaupun sedikit asing di pendengaran kita.  Contoh sederhana yaitu, saat kita mendengar kata bekatul, yang dalam pikiran kita adalah limbah dari penggilingan padi dan untuk makanan ternak. Adanya inovasi dan teknologi bekatul bisa dibuat produk olahan berbentuk sereal. 

Contoh Penganekaragaman Pangan

Pemanfaatan tanaman pisang biasanya hanya pada buahnya, tetapi saat ini selain buahnya dengan cara dimakan langsung, dibuat  kripik pisang, selai dll. Pisang dapat dibuang menjadi tepung pisang dan sebagai bahan campuran dalam proses pembuatan mie, sehingga mie tersebut banyak mengandung vitamin dari tepung pisang. Selain itu, ontongnya dapat dibuat menjadi dendeng, sebagai pengganti daging,bonggol batang pisang dapat dimanfaatkan menjadi kerupuk. 

Inovasi atau kreasi olahan pangan berbahan baku lokal saat ini mulai banyak digandrungi. Para inovator dan kreator menggunakan berbagai nama dan bentuk penyajian dengan mengikuti trend yang terjadi saat ini sehingga produk menjadi lebih cepat populer. Adanya media sosial memudahkan para kreator untuk memasarkan produk yang telah dibuat. Pada tahun 2018 KataData.com menyatakan bahwa konsumen yang online di Indonesia sudah mencapai 8,7 juta jiwa dengan jumlah transaksi hampir 144 T.  

Sumber:

  • Kanza, A. A. dan S. C. Umar. 2015. Mutu, Gizi dan Keamanan Pangan. Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jatinagor. Universitas Padjadjaran.

  • Sibuea, S. M., E. H. Kardhinata., dan S. Ilyas. 2014. Identification and Inventory type of Tuberous crops that Potential as a Source of Alternative Carbohydrates in Serdang Bedagai Regency. Jurnal Online Agroekoteknologi. ISSN No. 2337- 6597 Vol. 2 (4). Hal : 1408 – 1418..

  • Sumber Gambar: https://freepik.com
Editor
Editor

Asriadi Masnar

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on telegram

Baca juga artikel kami yang lain: