imunisasi

Imunisasi Anak Menjadi Prioritas di Negara Super Sibuk Jepang

Daftar Isi

“Di saat masih banyak orang tua yang galau memberikan anaknya imunisasi, Jepang justru berusaha mengatur jadwal agar hak imunisasi anaknya tetap terpenuhi meski pekerjaan kantor menuntut waktu lebih.”

Jepang dikenal dengan negara yang cepat bangkit dari keterpurukan, sehingga tidak mengherankan jika Jepang sebagai negara yang berpredikat Negara Maju. Salah satu pencapaiannya yakni dalam dunia kesehatan. Menyadari adanya suatu masalah kesehatan, Jepang cepat tanggap mengambil tindakan sehingga dapat mengurangi dampak masalah yang akan datang selanjutnya. Organisasi Kesehatan Dunia pun mengakui bahwa Jepang unggul dalam hal kesehatan.

Bagaimana dalam hal imunisasi? Pemberian vaksin pada anak di Jepang merupakan praktik yang sudah lama. Bahkan di tahun 70-an, Jepang memberlakukan sistem denda kepada mereka yang tidak melakukan imunisasi, karena saat itu terjadi wabah penyakit hingga tingginya angka kematian yang disebabkan oleh penyakit menular yang dapat dicegah dengan vaksin.

Upaya Jepang Memaksimalkan Pemberian Vaksin Imunisasi

Setiap anak di Jepang akan mendapatkan surat dari kantor wilayah terkait pentingnya pemberian vaksin dan jadwal imunisasi. Tidak hanya itu, anak-anak pun mendapatkan kupon gratis imunisasi berupa kuesioner yang wajib diisi. Dan wajib dibawa setiap jadwal pemberian vaksin. Itu artinya satu vaksin satu lembar kuesioner sebagai alat ganti pembayaran.

Setiap anak di Jepang akan mendapatkan surat dari kantor wilayah terkait pentingnya pemberian vaksin dan jadwal imunisasi. Tidak hanya itu, anak-anak pun mendapatkan kupon gratis imunisasi berupa kuesioner yang wajib diisi dan dibawa setiap jadwal pemberian vaksin.

Artinya satu vaksin satu lembar kuesioner sebagai alat ganti pembayaran. Tanpa kuesioner tersebut, tentu saja vaksin yang akan diberikan akan dikenakan biaya.

Kuesioner tersebut berisi tentang pertanyaan-pertanyaan terkait data anak, berat badan lahir, suhu hari itu, kesediaan mendapatkan vaksin hari itu, riwayat vaksin sebelumnya, status kesehatan anak beberapa hari terakhir, kekhawatiran orang tua terhadap kesehatan anak dan persetujuan dokter pemberi vaksin.

Pelayanan imunisasi yang mudah dan ramah

Di Jepang tidak mengenal puskesmas apalagi posyandu. Semua aktivitas imunisasi dilakukan oleh dokter di rumah sakit maupun di klinik. Sebelum ke rumah sakit atau klinik, orang tua akan melakukan reservasi agar tidak menunggu lama. Pihak rumah sakit/klinik akan mengurutkan antrean anak berdasarkan reservasi.

Bagi warga negara asing, dokter akan membantu melakukan reservasi setelah memberikan imunisasi pada warga Jepang. Hal ini salah satunya  karena keterbatasan bahasa. Jadwal imunisasi selanjutnya dapat disesuaikan dengan waktu orang tua namun tetap sesuai dengan interval pemberian vaksin sebelumnya.

Ruangan khusus anak atau klinik anak di Jepang didesain semeriah mungkin sesuai dunia anak-anak. Tujuannya agar anak merasa nyaman dan takut untuk mendapatkan suntikan vaksin. Ruang tunggu pun disediakan mainan dan buku agar anak tidak bosan menunggu.

Tantangan yang Dihadapi oleh Jepang dalam Memberikan Imunisasi

Meski upaya Pemerintah sudah sangat memadai, namun pemberian imunisasi kepada anak belum 100% dilaksanakan. Tentu saja tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya sakit. Namun beberapa aturan pemerintah Jepang terkait pemberian imunisasi, membuat sebagian besar orang tua lalai dalam memberikan anaknya imunisasi.

Jadwal imunisasi yang berkelanjutan bahkan hampir setiap pekan, membuat orang tua cukup kewalahan di tengah kesibukan yang lain. Tidak hanya itu, bila jadwal imunisasi tiba, anak tidak langsung diperbolehkan mendapat vaksin namun anak wajib diukur suhu badannya, jika melewati suhu standar pemberian vaksin, anak tersebut tidak akan mendapatkan vaksin hari itu sehingga orang tua harus menjadwalkan ulang pemberian vaksin untuk anaknya.

Menghadapi kenyataan tersebut, pemerintah melakukan beberapa antisipasi seperti pemberian tunjangan anak yang diharapkan dapat membantu orang tua memperoleh vaksin non-subsidi. Selain itu, memastikan setiap anak telah mendapatkan vaksin dengan melakukan pemeriksaan riwayat imunisasi pada saat anak berusia 1,4,10,18 bulan hingga 3,5 dan 6 tahun.

Usaha pemerintah Jepang pun dapat dikatakan tidak sia-sia, terlihat dari tingginya cakupan imunisasi dan rendahnya angka kejadian penyakit infeksi bila dibandingkan dengan negara lain. Meski tidak 100% persen terlaksana, tetapi pemerintah Jepang terus mengupayakan agar seluruh warganya mendapatkan imunisasi. Mengingat Jepang sebagai negara dengan wisatawan yang cukup tinggi dan mempertimbangkan terjadinya penularan virus internasional dari para wisatawan.

Maka dari itu, setiap anak, dimulai dari sekarang, wajib dibentengi dengan pemberian vaksin. Yakinlah bahwa suatu saat, anak-anak Anda akan berterima kasih karena Anda telah memenuhi haknya untuk mendapatkan imunisasi.

Sumber:

  • Kuwabara, N., & Ching, M. S. L. (2014). A review of factors affecting vaccine preventable disease in Japan. Hawai’i Journal of Medicine & Public Health : A Journal of Asia Pacific Medicine & Public Health, 73(12), 376–381.
  • Sakanishi, Y., Yamamoto, Y., Hara, M., Fukumori, N., Goto, Y., Kusaba, T., Tanaka, K., Sugioka, T., & Fukuhara, S. (2018). Public subsidies and the recommendation of child vaccines among primary care physicians: A nationwide cross-sectional study in Japan. BMJ Open, 8(7), 1–8. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2017-020923
  • Sugishita, Y., Kurita, J., Akagi, T., Sugawara, T., & Ohkusa, Y. (2019). Determinants of vaccination coverage for the second dose of measles-rubella vaccine in Tokyo, Japan. Tohoku Journal of Experimental Medicine, 249(4), 265–273. https://doi.org/10.162/tjem.249.265
  • Sumber Gambar: https://freepik.com
Editor
Editor

Nurbaya

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on telegram

Baca juga artikel kami yang lain: