Menyusui

4 Kunci Keberhasilan ASI Eksklusif Bagi Ibu yang Bekerja

Daftar Isi

“Menurut World Health Organization (WHO) lebih dari 50% kematian anak balita diakibatkan oleh kurang gizi dan dua per tiga di antara kematian tersebut disebabkan oleh praktik pemberian makan yang kurang tepat pada bayi dan anak”

Dalam upaya peningkatan status gizi dan kesehatan balita,  WHO telah merekomendasikan Golden Standard of Infant Feeding atau yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Pemberian makan bayi dan Anak (PMBA). Rekomendasi ini meliputi inisiasi menyusu dini (IMD), ASI eksklusif 0-6 bulan, pemberian makanan pendamping ASI dan Pemberian ASI dilanjutkan sampai usia 2 tahun.

Informasi tentang manfaat ASI bagi ibu dan bayi sudah banyak diketahui oleh masyarakat. Hal ini tidak lepas dari peran promosi kesehatan melalui berbagai saluran komunikasi yang ada, baik secara langsung melalui kelas ibu hamil, kelompok masyarakat maupun tidak langsung melalui media cetak dan elektronik.

Namun, tidak semua ibu menyusui dapat memberikan ASI kepada bayinya secara eksklusif. Ibu bekerja adalah salah satu kelompok yang tidak dapat memberikan ASInya secara eksklusif. Beberapa hal yang menjadi penyebabnya antara lain: tidak ada dukungan dari suami dan keluarga, tidak ada dukungan dari sarana pelayanan kesehatan, Ibu tidak tahu cara memberikan ASI yang benar saat bekerja, serta tidak ada dukungan dari tempat kerja.

Pentingnya Dukungan Memberikan ASI Eksklusif dari Suami dan Keluarga

Seorang Suami mempunyai peran yang sangat besar dalam membantu ibu mencapai keberhasilan dalam menyusui bayinya. Saat menyusui bayinya, terjadi dua refleks dalam tubuh Ibu. Refleks yang pertama adalah refleks prolaktin (produksi ASI) dan yang kedua adalah refleks oksitosin (mengalirnya ASI).

Suami dan keluarga memiliki peran penting dalam menciptakan ketenangan, kenyamanan dan kasih sayang sehingga merangsang refleks oksitosin. Kebahagiaan, ketenangan dan kenyamanan yang dirasakan ibu akan meningkatkan produksi hormon oksitoksin sehingga produksi ASI menjadi lancar.

Sebaliknya rasa sedih, kelelahan fisik dan mental seorang ibu akan menghambat produksi hormon oksitosin ini. Sehingga produksi ASI menjadi tidak lancar. Di sinilah pentingnya peran seorang suami serta keluarga dalam mempersiapkan, mendorong dan mendukung ibu serta menciptakan suasana yang kondusif bagi ibu hamil dan menyusui.

Tersedianya Sarana Pelayanan Kesehatan

Sarana pelayanan kesehatan memainkan peran yang sangat penting dalam memprakarsai kegiatan menyusui. Terdapat sepuluh langkah yang harus dilakukan oleh sarana pelayanan kesehatan untuk mendukung ibu bekerja meningkatkan kualitas menyusui atau yang lebih dikenal dengan istilah Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (10 MLKM).

Sarana pelayanan kesehatan harus mempunyai kebijakan peningkatan pemberian ASI tertulis yang secara rutin dikomunikasikan kepada semua petugas. Petugas kesehatan harus memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menerapkan kebijakan tersebut.

Petugas memberikan informasi menyeluruh kepada ibu hamil tentang manfaat menyusui, penatalaksanaan dimulai sejak kehamilan hingga usia anak 2 tahun, termasuk kesulitan menyusui dan solusinya. Petugas juga membantu ibu untuk menyusui yang benar, mengajarkan posisi dan pelekatan yang tepat dan cara mempertahankan menyusui meski ibu dipisah dari bayi atas indikasi medis.

Setelah melahirkan, ibu diberi hak untuk melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) minimal 1 jam setelah bayi lahir dan mengupayakan ibu bersama bayi 24 jam sehari (rawat gabung). Ketika pulang dari sarana pelayanan kesehatan, Ibu dirujuk kepada kelompok Pendukung- ASI (KP-ASI) agar mendapat dukungan dan informasi yang relevan dari kelompok tersebut.

Ketersediaan Informasi yang Benar dan Relevan

Ibu yang tidak tahu cara memberikan ASI yang benar saat bekerja menjadi salah satu penyebab gagalnya pemberian ASI eksklusif.

Ibu bisa mendapatkan informasi yang relevan melalui para konselor laktasi yang akan memberikan dukungan dan solusi permasalahan yang dihadapi ibu. Konselor ASI dapat dijumpai di Rumah Sakit, Puskesmas atau di Asosiasi Menyusui. Pastikan Konselor yang Anda hubungi benar-benar terdaftar dan terjamin legalitasnya.

Informasi terkait menyusui yang dibutuhkan oleh ibu bekerja yang menyusui antara lain adalah tentang ASI cukup atau tidak untuk memenuhi kebutuhan bayi? Bagaimana cara memerah ASI yang benar? Bagaimana cara menyimpan dan memberikan ASI perah? Lebih baik menggunakan pompa atau tangan saat memerah ASI? Seberapa sering harus menyusui dan memerah ASI? Bagaimana cara meningkatkan produksi ASI? Bagaimana jika puting ibu lecet, payudara kecil, puting tenggelam apakah bisa menyusui? Jika Ibu atau bayi sakit apakah tetap diberikan ASI?

Dukungan dari Tempat Kerja

Kebijakan dari tempat kerja sangat berpengaruh terhadap keberhasilan menyusui. Hal ini berkaitan erat dengan pemberian cuti melahirkan, penyediaan fasilitas ruang laktasi, pemberian waktu istirahat tambahan untuk memerah ASI, pengurangan target kerja harian, dll.

Hak setiap Ibu untuk memberikan ASI eksklusif bukan sebuah keniscayaan di Indonesia, karena pemerintah telah jauh hari memperhatikan hal tersebut. Melalui Undang-Undang No. 13 Tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan, khusus pada Pasal 83 mengamanatkan bahwa “Pekerja/ buruh perempuan yang anaknya masih menyusu harus diberi kesempatan sepatutnya” untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan selama waktu kerja”. Bahkan selanjutnya Pasal 153 ayat (1) huruf ditegaskan bahwa pengusaha dilarang melakukan pemutusan hubungan kerja dengan alasan pekerja/ buruh perempuan menyusui bayinya.

Bukan hanya satu ketentuan peraturan perundang-undangan yang menjamin hak menyusui bagi ibu, misalnya Undang-undang No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak misalnya, pada Pasal 22 disebutkan “Negara dan pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab memberikan dukungan sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan perlindungan anak”.

Dukungan sarana dan prasarana dimaksud salah satunya adalah ruang menyusui. Belum lagi pada Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, dimana Pasal 128 ayat (2) Ibu mendapatkan jaminan, bahwa Selama pemberian air susu ibu, pihak keluarga, Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus. Bahkan fasilitas khusus tersebut diadakan di tempat kerja dan tempat sarana umum.

Pada instansi penyelenggara pelayanan publik juga harus menyediakan sarana/prasarana bagi ibu menyusui atau yang sering disebut dengan pojok laktasi, hal ini sesuai dengan amanat Undang-undang No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Sehingga baik ibu yang bekerja di swasta atau pada instansi pemerintah, keduanya tetap mendapatkan hak yang sama untuk menyusui.

Sumber:

  • Modul Pelatihan Konseling Menyusui 40 Jam Standar WHO/UNICEF/KEMKES
  • Mandasari Z. 2018. Hak Menyusui Bagi Ibu yang Bekerja. Ombudsman RI.
  • World Health Organization (WHO). Infant and young child feeding. World Health Organization. 2009. 1–127 p.
  • Al Rahmad A. Pemberian Asi Dan MP-Asi terhadap Pertumbuhan Bayi Usia 6 – 24 Bulan. J Kedokt Syiah Kuala. 2017;17(1):8–14
  • Sumber Gambar: https://freepik.com
Editor
Editor

Nurbaya

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on telegram

Baca juga artikel kami yang lain: