tekanan darah

2 Penyebab Umum Tekanan Darah Tinggi

Daftar Isi

Hipertensi atau yang masyarakat kenal dengan penyakit darah tinggi merupakan keadaan peningkatan tekanan darah yang memberi gejala yang akan berlanjut untuk suatu target organ seperti stroke (untuk otak) dan penyakit jantung koroner (untuk pembuluh darah jantung)

Dengan target organ di otak yang berupa stroke, hipertensi merupakan penyebab utama stroke yang bisa menyebabkan kematian. Penyebab hipertensi di antaranya karena faktor keturunan serta kebiasaan hidup seseorang. Seseorang memiliki risiko lebih besar untuk menderita tekanan darah tinggi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi. Oleh karenanya pengelolaan hipertensi pada keluarga sangat penting untuk mencegah.

Siapa Saja yang Berisiko Terkena Tekanan Darah Tinggi?

Hipertensi erat kaitannya dengan umur. Semakin tua seseorang semakin besar risiko terserang hipertensi. Umur lebih dari 40 tahun mempunyai risiko lebih tinggi terkena hipertensi. Semakin bertambah usia, risiko terkena hipertensi lebih besar sehingga prevalensi hipertensi di kalangan usia lanjut cukup tinggi yaitu sekitar 40 % dengan angka kematian sekitar 50 % di atas umur 60 tahun.

Pembuluh darah akan kehilangan kemampuan untuk memompa darah (elastisitasnya) seiring bertambahnya usia. Tekanan darah akan meningkat ketika berumur 50 atau 60 tahunan. Dengan bertambahnya umur, risiko terjadinya hipertensi juga semakin meningkat. Meskipun hipertensi bisa terjadi pada segala usia, namun seiring waktu, kejadian hipertensi justru bisa dijumpai pada orang yang berusia 35 tahun atau lebih.

Sebenarnya wajar bila tekanan darah meningkat dengan bertambahnya umur. Hal ini disebabkan oleh perubahan alami pada jantung, pembuluh darah dan hormon. Tetapi bila perubahan tersebut disertai faktor-faktor lain (pola makan, jenis kelamin, merokok dan konsumsi alkohol, serta faktor genetik) maka bisa memicu terjadinya hipertensi.

Bila ditinjau perbandingan kejadian hipertensi antara wanita dan pria, ternyata terdapat angka yang cukup bervariasi. Dari laporan studi di Jawa Tengah didapatkan angka prevalensi 6,0% untuk pria dan 11,6% untuk wanita. Prevalensi di Sumatera Barat 18,6% pria dan 17,4% perempuan, sedangkan daerah perkotaan di Jakarta didapatkan 14,6% pria dan 13,7% wanita.

Meski angka kejadian hipertensi ini cukup variatif, namun beberapa ahli mengatakan pria lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan wanita. Sedangkan menurut Arif Mansjoer dkk., pria dan wanita menopause mempunyai potensi yang sama untuk terjadinya hipertensi. Namun wanita lebih banyak yang menderita hipertensi dibanding pria, hal ini disebabkan karena hormon estrogen pada wanita. Salah satu fungsi estrogen pada wanita yaitu mampu mengontrol kerja pembuluh darah. Hormon estrogen mampu menjaga kekentalan darah dan menjaga dinding pembuluh darah agar tetap dalam kondisi normal dan mampu menjaga tekanan darah. Lalu apa saja yang dapat menyebabkan hipertensi?

Kebiasaan Merokok

Nikotin dalam tembakau menyebabkan meningkatnya tekanan darah. Seperti zat-zat kimia lain dalam asap rokok, nikotin diserap oleh pembuluh-pembuluh darah di dalam paru-paru dan diedarkan ke aliran darah. Hanya dalam beberapa detik nikotin sudah mencapai otak dengan memberi sinyal ke hormon adrenalin.

Hormon adrenalin akan menyempitkan pembuluh darah dan memaksa jantung untuk bekerja lebih berat karena tekanan yang lebih tinggi. Setelah merokok dua batang saja, maka baik tekanan sistolik maupun diastolik akan meningkat sebanyak 10 mmHg.

Tekanan darah akan tetap meningkat hingga 10 mmHg sampai 30 menit setelah berhenti mengisap rokok. Tekanan darah secara perlahan akan menghilang seiring dengan berkurangnya efek nikotin dalam tubuh. Namun pada perokok berat tekanan darah akan berada pada level tinggi sepanjang hari.

asupan
asupan

Pola Makan yang Tidak Sehat

Asupan makanan merupakan salah satu faktor hipertensi. WHO menganjurkan untuk mencegah dan mengontrol tekanan darah dengan mengurangi dan mengelola makanan yang sehat. WHO merekomendasikan  agar banyak  makan buah dan sayuran segar yang menyediakan zat gizi seperti kalium dan serat. Selain itu sangat penting membatasi asupan natrium dan memperhatikan asupan makanan dari makanan olahan yang tinggi garam, gula, kopi dan minuman keras.

Kebiasaan sebagian besar ibu – ibu yang menggunakan garam sebagai bumbu utama dalam masakan sehari – hari perlu dibatasi. Pembatasan garam dan konsumsi buah – buahan sumber kalium dianjurkan karena kandungan kalium dapat menurunkan tekanan darah. Penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa semakin rendah asupan kalium seseorang dan semakin banyak konsumsi natrium (seperti makanan kemasan) akan mengakibatkan peningkatan tekanan darah.

Mengonsumsi makanan tinggi kalium yang banyak terdapat pada sayur dan buah juga dapat menurunkan risiko penyakit jantung. Mengonsumsi lebih banyak pangan sumber kalium akan membantu menurunkan tekanan darah. Pangan sumber kalium antara lain kismis, kentang, pisang, kacang (beans) dan yoghurt. Penelitian mengungkapkan bahwa  mengurangi konsumsi 20-35% natrium setiap harinya akan mengurangi 25% risiko penyakit jantung.

Untuk tetap sehat dan menghindari hipertensi, sangat penting untuk mengubah sikap penderita hipertensi menjadi pola hidup. Sikap merupakan komponen sangat penting dalam perilaku kesehatan. Untuk itu diperlukan sikap yang baik dengan cara perilaku hidup sehat yang sesuai dengan standar-standar kesehatan.

Sumber:

  • Aronow WS. Reduction in dietary sodium improves blood pressure and reduces cardiovascular events and mortality. 2017;5(20):18-20. doi:10.21037/atm.2017.08.06
  • Putri EHD, Kartini A. Hubungan Asupan Kalium, Kalsium Dan Magnesium Dengan Kejadian Hipertensi Pada Wanita Menopause Di Kelurahan Bojongsalaman, Semarang. J Nutr Coll. 2014;3:580-586.
  • Supariasa IDN, Handayani D. Asuhan Gizi Klinik. Jakarta: EGC; 2019.
  • Sumber Gambar: https://freepik.com
Editor
Editor

Nurbaya

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on telegram

Baca juga artikel kami yang lain: