hoaks

Bahaya Hoaks Kesehatan dan Cara Menyikapinya

Pramesthi Widya Hapsari, SKM., M.Gizi
Pramesthi Widya Hapsari, SKM., M.Gizi

Dosen Program Studi Gizi, Universitas Jenderal Soedirman

“Pada tahun 1975, Benjamin Franklin, dalam Pensylvanian Gazett, mengklaim bahwa sebuah batu -disebut Batu China- dapat menyembuhkan rabies dan kanker. Setelah ditelusuri ternyata hanya tanduk rusa biasa yang tidak memiliki khasiat medis apa pun. Tidak ada verifikasi lanjut yang dilakukan, mengingat nama pemberi klaim adalah Benjamin Franklin.”

Hal serupa juga banyak ditemukan pada masa sekarang. Kominfo melaporkan dari bulan Agustus 2018 hingga April 2019 terdapat 200 hoaks kesehatan dari 1.731 hoaks yang beredar. Pada masa pandemi COVID 19 terdapat 800 hoaks yang beredar di masyarakat. Fenomena penyebaran hoaks yang masif kemungkinan disebabkan oleh ketakutan akan ketinggalan berita atau FoMO (Fear of Missing Out) yang dialami sebagian besar masyarakat.

Survei Mastel pada tahun 2017 melaporkan 54% orang ragu-ragu akan berita yang diterima adalah hoaks kemungkinan karena berita tersebut disebarkan oleh orang yang dapat dipercaya (47.10%) atau beritanya dirasa bermanfaat (30.90%) untuk disebarkan. Sebagaimana halnya mitos, ketika hoaks sudah tersebar di masyarakat dan bahkan dipercayai sebagai hal yang benar maka akan sulit untuk meluruskannya.

Berdasarkan maknanya, hoaks dan mitos merupakan dua hal berbeda. Hoaks yang berasal dari kata hocus bagian dari kata hocus pocus memiliki arti berita bohong. Hoaks atau berita bohong kadang disebarkan dengan maksud tertentu atau hanya sekedar iseng. Sedangkan mitos merupakan cerita dari masa lampau yang dianggap benar oleh penganut ceritanya dan diteruskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Berbeda dengan hoaks, mitos mengandung kebijaksanaan, pengalaman dan nilai budaya. Walaupun dalam konteks mitos makanan, perlu pembuktian secara ilmiah untuk mengecek kebenarannya. 

Penyebaran hoaks bidang kesehatan khususnya gizi memiliki dampak yang cukup besar terhadap kesehatan masyarakat. Mungkin kita pernah mendengar konsumsi semangka dibarengi dengan susu kental manis akan berisiko kematian, atau mengonsumsi seafood dan es jeruk akan berakibat buruk bagi kesehatan.

Berita mengonsumsi seafood dibarengi dengan es jeruk pertama kali saya dengar ketika melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan siswa-siswi SMP dan mereka bertanya kebenaran berita tersebut. Tentu informasi tersebut kurang benar karena mengonsumsi seafood sebagai sumber protein hewani dan es jeruk yang kaya vitamin C, akan meningkatkan penyerapan zat besi sehingga mencegah terjadinya anemia.

Dengan mudahnya berita tersebar, masyarakat tidak sulit untuk mendapatkan atau mencari berita tentang kesehatan yang kemudian mencoba mempraktikkan informasi yang diterima. Salah satu studi yang mengeksplorasi dampak informasi yang tersebar di internet, melaporkan bahwa seseorang mengalami gagal ginjal karena mencoba mengobati sendiri penyakit kankernya.

Selain itu dilaporkan juga, seseorang mengalami stres setelah membaca informasi tentang ketidaknormalan pada janin. Oleh karena itu, penting untuk mampu membedakan mana mitos, hoaks dan fakta sehingga meningkatkan self-control dalam penyebarluasan berita.

Hoaks dapat dikenali melalui cara-cara berikut:

  1. Penggunaan kalimat provokatif yang bertujuan untuk mempengaruhi pembacanya
  2. Penggunaan sumber berita yang kurang dapat dipercaya. Biasanya berita hoaks, tidak memiliki tautan ke sumber resmi. Selain itu tidak jelas siapa penanggung jawabnya (perorangan atau Lembaga) dan tidak jelas kredibilitas beritanya.
  3. Gambar, foto atau video yang digunakan merupakan rekayasa, foto lama yang diedit atau bahkan tidak nyambung dengan beritanya. Salah satu cara mengeceknya adalah mengecek foto dalam berita di dalam Google images.

Setelah mengetahui kebenaran berita, tidak bisa serta merta kita gampang menyebarluaskan berita tersebut. Tahap selanjutnya adalah menilai apakah berita yang didapatkan memberikan manfaat bagi masyarakat. Jika berita tersebut menimbulkan keresahan akan lebih baik jika tidak disebarluaskan.

Hal yang lebih penting yang harus dilakukan setelah mengetahui kebohongan sebuah berita adalah menimpa berita tersebut dengan berita yang benar. Jangan biarkan berita bohong yang menyebar menjadi kepercayaan baru dan berubah menjadi mitos di kemudian hari.

Sumber:

  • Kementerian Komunikasi dan Informasi. Temuan Kominfo : hoaks paling banyak beredar di April 2019 [Internet]. 2020 [cited 2020 Jul 22]. p. 1–5. Available from: https://kominfo.go.id/content/detail/18440/temuan-kominfo-hoax-paling-banyak-beredar-di-april-2019/0/sorotan_media
  • Aswinna, Kurniawati Yuli Pratiwi, Tantawi MA, Nurkhayati U, Resminingayu DH, Wulandari LT, et al. Stop Hoax! UI Library [Internet]. 2017;3(1). Available from: http://lib.ui.ac.id/unduh/unduh/UILib_Berkala_Vol_3_No_1.pdf?id=2
  • Swire-Thompson B, Lazer D. Public Health and Online Misinformation: Challenges and Recommendations. Annu Rev Public Health. 2020;41(1):433–51.
  • Gumgum G, Justito A, Nunik M. Literasi Media: Cerdas Menggunakan Media Sosial Dalam Menanggulangi Berita Palsu (Hoax) Oleh Siswa SMA. J Pengabdi Kpd Masy. 2017;1(1):35–40.
  • Masyarakat Telematika Indonesia. Survey 2017: Wabah Hoax Nasional [Internet]. Jakarta; 2017. Available from: https://mastel.id/hasil-survey-wabah-hoax-nasional-2017/
  • Sumber Gambar: https://freepik.com
Editor
Editor

Nurbaya

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on telegram

Baca juga artikel kami yang lain: