Diet

Diet Tapi Tidak Makan? Salah Kaprah Tentang Diet

Yade K. Yasin, M.Gizi, RD
Yade K. Yasin, M.Gizi, RD

Alumni Program Studi Profesi Dietisien Universitas Brawijaya Malang tahun 2019. Saat ini sedang membangun karir sebagai Registered Dietitian (RD).

““Diet tapi skip sarapan. Diet tapi skip makan malam. Diet hanya makan buah sebiji. Diet cuma makan telur. Diet minum air putih saja. Yakin Anda diet?”

“Loh kok ga makan? Oh ini lagi diet”.

Kalimat ini sering kali kita dengar dari orang-orang yang mengaku melakukan diet tapi mengabaikan makan. Umumnya hal ini dialami oleh orang-orang dengan berat badan berlebih dan beranggapan bahwa diet hanya untuk orang yang ingin melakukan penurunan berat badan.

Arti kata diet yang erat hubungannya dengan meninggalkan makan atau mengurangi makan, tidaklah sepenuhnya keliru namun secara umum diet memiliki makna yang lebih luas dari sekedar tidak makan.

Diet itu apa sih?

Berdasarkan Oxford Handbook of Nutrition and Dietetics, diet adalah kebiasaan makan dan minum seseorang.

Jadi setiap orang yang melakukan kegiatan makan dan minum, termasuk aktif melakukan diet. Diet juga dapat merujuk pada makanan dan minuman yang dikonsumsi setiap hari serta keadaan mental dan fisik yang berhubungan dengan makan.

Diet secara umum dikenal sebagai pola makan yaitu pengaturan konsumsi makanan dan minuman, termasuk di dalamnya aktivitas fisik yang bertujuan untuk mencapai berat badan ideal dan meningkatkan derajat kesehatan.

Berkembangnya pemahaman terkait “sedang melakukan diet”, umumnya mengarah pada kegiatan mengikuti predeskripsi diet untuk menurunkan berat badan dan jenis-jenis diet populer yang digaung-gaungkan memiliki efek “cepat” menurunkan berat badan.

Istilah diet ini juga kerap digunakan untuk memasarkan produk yang menggambarkan rendah kalori. Padahal diet tidak hanya diperuntukkan bagi orang yang ingin menurunkan berat badan saja, tapi juga untuk orang dengan kekurangan gizi, defisiensi vitamin dan mineral, seseorang yang dalam perawatan, atau seseorang yang ingin meningkatkan derajat kesehatan baik fisik maupun mental.

Baru-baru ini FAO dan WHO menyebutkan bahwa diet yang sehat adalah diet yang berkesinambungan (sustainable) yang bertujuan untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan optimal semua individu dan mendukung kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang berfungsi pada semua tahap kehidupan untuk generasi sekarang dan mendatang, berkontribusi untuk mencegah semua bentuk malnutrisi (seperti kurang gizi, defisiensi mikronutrien, kelebihan berat badan dan obesitas), serta mengurangi risiko penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, stroke, diabetes dan kanker tertentu.

Komponen diet yang perlu dipahami

Diet tidak hanya tentang makanan apa saja yang tidak boleh dikonsumsi atau kapan waktu yang baik untuk makan. Terdapat beberapa hal penting yang perlu diperhatikan saat melakukan diet yaitu:

  1. Jumlah (quantites). Jumlah makanan yang dikonsumsi disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu karena kebutuhan tiap orang berbeda menurut jenis kelamin, umur, dan kondisi tubuh. Sehingga dalam melakukan diet perlu diperhatikan berapa banyak yang sebaiknya dikonsumsi untuk memenuhi tujuan akhir diet. Tidak serta merta mengurangi atau sama sekali menghindari makanan sumber zat gizi tertentu seperti karbohidrat atau lemak, karena sejatinya tubuh memerlukan semua jenis zat gizi dalam jumlah cukup sesuai kebutuhan.
  2. Proporsi (proportions). Makanan yang dikonsumsi terdiri dari sumber karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral dimana proporsi antar zat gizi tersebut juga perlu diperhatikan saat melakukan diet agar terpenuhi kebutuhan dan agar terhindar dari kekurangan atau kelebihan zat gizi tertentu.
  3. Jenis dan Kombinasi Makanan. Makanan yang dikonsumsi sebaiknya beragam karena tak satu pun jenis makanan yang mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk menjamin pertumbuhan dan mempertahankan kesehatan. Melainkan diperlukan jenis dan kombinasi dari bahan makanan yang berbeda. Hal Ini juga dapat disesuaikan dengan lingkungan dan ketersediaan pangan di sekitar kita.
  4. Frekuensi. Frekuensi yang dimaksud adalah berapa kali sebaiknya seseorang makan dalam sehari termasuk waktu makan yang dianjurkan. Tiap program diet memiliki aturan sendiri dalam hal ini, tapi sebaiknya disesuaikan dengan kebiasaan dan kondisi tubuh seseorang. Ada beberapa orang yang makan 2x dalam sehari, ada yang 3x atau lebih dalam sehari. Namun terdapat jam-jam tertentu yang disarankan untuk makan, salah satunya sesuai dengan waktu sirkadian tubuh (artikel sudah pernah dimuat). Dietisien atau ahli gizi lebih menyarankan untuk tidak melewatkan 1 waktu makan karena akan mempengaruhi metabolisme tubuh. Lama waktu tubuh memetabolisme makanan adalah 3-4 jam sehingga setelah itu tubuh tetap butuh asupan makan untuk dapat terus mempertahankan kondisinya.

 

Diet harus realistis dan memenuhi kebutuhan. Pertimbangan penting dari diet yang dilakukan adalah makanan dan minuman yang disarankan haruslah yang dapat dimakan serta yang dapat direkomendasikan dalam modifikasi diet yang dilakukan sesuai kondisi tubuh.

Kualitas zat gizi dari makanan dan minuman penyusunnya disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, sosial budaya, dan ketersediaan bahan makanan yang dapat dijangkau.

Diet dari makanan saja tidak akan cukup untuk dapat mencapai tujuan akhir diet. Selain makanan juga diperlukan aktivitas fisik agar zat gizi yang dikonsumsi dapat melakukan perannya dengan baik di dalam tubuh.

Aktivitas fisik meliputi segala macam kegiatan tubuh, namun lebih disarankan melakukan olahraga secara teratur 3 – 5x/minggu setiap 30 – 45 menit sekali. Hal ini merupakan salah satu upaya untuk menyeimbangkan antara pengeluaran dan pemasukan zat gizi dalam tubuh, dan membantu dalam proses metabolisme.

Sumber:

  • Webster-Gandy, Joan, Angela Madden, and Michelle Holdsworth. 2020. Oxford Handbook of Nutrition and Dietetics. United Kingdom: Oxford University Press. 1–730 p.
  • FAO, and WHO. 2019. Sustainable Healthy Diets Guiding Principles. Rome: Food and Agriculture Organization of United Nations and World Health Organization. 1–37 p. https://doi.org/10.4060/ca6640en.
  • 2014. A Series of Systematic Reviews on the Relationship Between Dietary Patterns and Health Outcomes. Alexandria: United States Department of Agriculture. 1–247 p.
  • Kementrian Kesehatan RI. 2014. Pedoman Gizi Seimbang. Kementerian Kesehatan RI. 1–99 p.
  • Mahan, L. K., & Raymond, J. L. (2017). Krause’s Food & The Nutrition Care Process 14th Edition (14th ed.). St. Louis, Missouri: Elsevier Inc.
  • Sumber Gambar: https://freepik.com
Editor
Editor

Nurbaya

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on telegram

Baca juga artikel kami yang lain: