stunting

Membincang Stunting Sebagai Isu Strategis 2020

M. Sadli Umasangaji
M. Sadli Umasangaji

Puskesmas Bobaneigo Maluku Utara dan Mahasiswa Terapan Gizi Poltekkes Kemenkes Makassar

Daftar Isi

“Stunting termasuk ke dalam isu strategis Kemenkes yang dibahas dalam Rakerkesnas (Rapat Kerja Kesehatan Nasional) tahun 2019, disamping angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian neonatal (AKN), Tuberculosis (TBC), penyakit tidak menular (PTM), dan cakupan imunisasi dasar lengkap.

Ketika stunting menjadi isu strategis maka perbincangan soal ini mulai menggeliat dimana-mana dan bahkan semua profesi pun mulai menjadikannya sebagai bahan diskusi. Terutama akhir-akhir ini pula kita lihat berbagai webinar juga membincangkan soal stunting. Namun, bila kita melihat laporan rutin bulanan di puskesmas-puskesmas sebelum tahun 2018, data stunting belum ada di dalam template laporan.

Kebutuhan data ini baru muncul sekitar tahun 2018 – 2019. Meskipun, data stunting sendiri sudah ada dalam hasil-hasil survei seperti Pemantauan Status Gizi misalnya.

Stunting merupakan masalah gizi yang penyebabnya sangat kompleks dan multifaktor. Pokok masalahnya adalah ekonomi dan politik yang mendasari timbulnya status sosial ekonomi. Sedangkan penyebab langsung adalah asupan makanan yang kurang dan penyakit infeksi. Asupan gizi yang tidak sesuai kebutuhan merupakan salah satu penyebab dari gangguan gizi pada balita. Balita dengan asupan gizi yang kurang akan memiliki masalah gizi di antaranya adalah pendek.

Baca juga: Anak Pendek, 3 Faktor Ini Penyebabnya

 

Multitafsir Definisi Stunting

Kurang gizi kronik adalah suatu bentuk lain dari kegagalan pertumbuhan. Kurang gizi kronik adalah keadaan yang sudah terjadi sejak lama, bukan seperti kurang gizi akut. Stunting merupakan proses kumulatif dan disebabkan oleh asupan zat-zat gizi yang tidak cukup atau penyakit infeksi yang berulang, atau kedua-duanya.

Hal ini dapat juga terjadi sebelum kelahiran dan disebabkan oleh asupan gizi yang sangat kurang saat masa kehamilan, pola asuh makan yang sangat kurang, rendahnya kualitas makanan sejalan dengan frekuensi infeksi sehingga dapat menghambat pertumbuhan.

Bila kita melihat definisi ini, maka terkadang stunting ditempatkan mirip dengan gizi kurang atau gizi sangat kurang ataupun gizi kurus dan sangat kurus. Kita meyakini bahwa masalah gizi memang sebagaimana kerangka penyebab masalah gizi secara umum. Dalam hal ini penulis ingin menegasikan bahwa masalah stunting tidak selalu menjadi masalah gizi sangat kurang ataupun sangat kurus.Walaupun bisa jadi anak dengan status gizi sangat kurang, kurus ataupun sangat kurus bisa jadi juga memiliki status gizi pendek ataupun sangat pendek.

Selain itu, karena realitas menunjukkan bahwa bisa jadi anak pendek tidak memiliki status gizi yang sangat kurang, kurang, kurus ataupun sangat kurus. Atau misalkan pendefinisian umum pada kata kerdil, selalu diarahkan pada orang dengan tubuh cebol. Padahal anak cebol belum tentu merupakan kasus ini.

Maka, pendefinisian yang umum dipakai oleh para ahli gizi adalah dengan menggunakan indikator status gizi tinggi badan atau panjang badan menurut usia anak tersebut. Balita pendek diidentifikasi berdasarkan tinggi badan atau panjang badan anak dibandingkan dengan standar tinggi badan atau panjang badan anak pada populasi yang normal sesuai dengan umur dan jenis kelamin.

Penentuan balita pendek bila tinggi badan atau panjang badan dengan nilai z-score berada dibawah -2 SD dari standar WHO dan diatur dalam peraturan Kemenkes Nomor 2 tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak. Anak akan diklasifikasikan sebagai sangat pendek apabila memiliki nilai z-score<-3,0 dan pendek apabila nilai z-skor ≥- 3,0 s/d < -2,0. Z-score adalah nilai simpangan BB atau TB dari nilai BB atau TB normal menurut baku pertumbuhan WHO. Dalam beberapa studi, stunting biasanya merupakan penggabungan antara sangat pendek dan pendek.

Selain itu, penulis juga menyatakan ketidaksetujuan terhadap konotasi yang muncul terkait dampak dari stunting. Misalnya saja status pendek yang sering kali dikaitkan dengan kecerdasan yang rendah. Memang di dalam beberapa penelitian menunjukkan fakta tersebut, namun bisa jadi konsekuensi tersebut juga akibat dari masalah gizi yang lain seperti kurus, gizi kurang, ataupun gizi buruk.

Dampak kecerdasan dalam konotasi ini ditempatkan dalam perbincangan maka kecenderungannya menjadi konotasi negatif, yakni orang pendek cenderung memiliki kecerdasan yang rendah.

Padahal, faktanya tidak selalu demikian, karena terdapat orang-orang pendek tapi tetap produktif. Maka mungkin kita perlu mengubah konotasi pendek menjadi lebih positif yang tidak menimbulkan kesalahan interpretasi di masyarakat. Misalnya, bahwa kejadian ini perlu ditangani karena suatu waktu kita berharap memiliki masyarakat Indonesia yang memiliki postur tubuh ideal dan juga produktif.

Dengan demikian kita menempatkan bahwa kejadian stunting memiliki dampak pada kecerdasan akan tetapi proses hidup memiliki ketentuan lain dalam kecerdasan dan produktivitas seseorang misalkan daya belajar, kemauan belajar serta capaian pendidikan akan menentukan kapasitas intelektual seseorang. Untuk itu konotasi positif dari penurunan angka prevalensi stunting adalah mewujudkan masyarakat Indonesia pada masa-masa mendatang dengan postur ideal dan juga produktif.

Sumber:

  • Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2015. Pendek (Stunting) di Indonesia, Masalah dan Solusinya.
  • Kementerian Kesehatan, 2017. Buku Saku Pemantauan Status Gizi Tahun 2016.
  • Kementerian Kesehatan, 2018. Buku Saku Pemantauan Status Gizi Tahun 2017.
  • Kementerian Kesehatan, 2020. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2020 Tentang Standar Antropometri Anak.
  • Sumber gambar: https://antaranews.com
Editor
Editor

Andi Imam Arundhana Thahir

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on telegram

Baca juga artikel kami yang lain: