Mengenal lebih dekat “galau” dan “stres” di kalangan remaja

Daftar Isi

“KBBI: ga·lau (adj), ber·ga·lau (adj) sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran) – Remaja: “Aku galau” artinya patah hati, sedih, stres?”

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), masa remaja, usia 10-19 tahun, adalah masa yang unik dan rentan terhadap banyak perubahan, baik secara fisik, emosi, dan sosial. Perubahan-perubahan tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti ekonomi, adanya pelecehan dan kekerasan yang dapat mempengaruhi kondisi kesehatan mental remaja.

Gangguan kesehatan mental pada remaja merupakan isu penting yang jumlahnya meningkat dari tahun ke tahun. Gangguan ini meliputi gangguan emosional dan kecemasan, depresi, gangguan perilaku, gangguan makan, atau kesulitan membedakan kenyataan dan imajinasi, keinginan bunuh diri dan menyakiti diri sendiri, serta perilaku berisiko lainnya.

Di Indonesia, “Galau” dan “Stres” menjadi kata-kata yang lumrah diucapkan dan tidak mengenal umur, suku atau ras, bahkan batas wilayah. Bak “discount” di hari raya, kata-kata tersebut menjamur dan  seakan menjadi hal biasa saja sebagai bagian dari ekspresi diri remaja di kehidupan masyarakat dan di media sosial. Apakah “galau dan “stres” remaja berhubungan dengan kesehatan mental?

Galau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah “sibuk beramai-ramai, ramai sekali, atau kacau tidak keruan”. Galau juga sering diterjemahkan dengan keadaan yang sementara berupa sedih dan tidak tenang. Sedangkan stres adalah “gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang disebabkan oleh faktor luar atau ketegangan”. Stres juga bisa diartikan sebagai reaksi bertahan terhadap pikiran atau perasaan terhadap tekanan yang diperoleh. Letak perbedaan dari keduanya adalah ada atau tidaknya tekanan yang muncul. Stres sendiri berbeda dengan depresi, di mana depresi diartikan sebagai gangguan mood yang berlangsung jangka panjang yang berdampak pada kesehatan penderitanya, baik secara fisik maupun psikis.

Jadi, galau belum tentu stres, dan stres belum tentu depresi. Seseorang bisa dikatakan mengalami depresi setelah melalui penilaian secara klinis dan dilakukan oleh tenaga profesional. Stres dan depresi merupakan bagian dari masalah kesehatan mental yang jumlahnya meningkat dari tahun ke tahun terutama di negara-negara berkembang. Di Indonesia, depresi diketahui sebesar 6,1 persen dan jika ditinjau secara global, jumlahnya lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki.

Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Mental

Banyak hal yang dapat berkontribusi terhadap stres dan depresi pada remaja, mulai dari keinginan yang kuat untuk mandiri, eksplorasi identitas seksual, kualitas kehidupan di rumah hingga pengaruh teman sebaya. Pengaruh media dan norma di masyarakat dapat memperburuk kesenjangan antara realitas hidup remaja dan persepsi atau keinginan pribadi mereka untuk kehidupan mereka di masa depan.

Teman sebaya mampu memberikan tekanan yang hebat terhadap mental remaja dan juga memberikan stigma sosial yang menyebabkan remaja memiliki kepuasan tubuh yang lebih rendah. Hal ini tentu saja akan berdampak negatif terhadap kesehatan remaja.

Terkhusus remaja perempuan yang seringkali melakukan diet karena merasa tidak puas terhadap citra tubuhnya, mereka cenderung mengalami kekurangan asupan kalori dan dapat berakibat pada gangguan mood. Selain itu, jika proses diet remaja ini gagal, maka mereka akan tambah depresi.

Beberapa penelitian melaporkan bahwa perubahan sebelum dan sesudah menstruasi pertama kali terbukti dengan perilaku yang menyimpang. Remaja perempuan yang mengalami pubertas lebih awal cenderung lebih khawatir tentang kehidupan mereka setelah menstruasi dan hal tersebut berhubungan dengan gejala depresi.

Gejala yang Mudah Dikenali

Gejala stres pada remaja yang mudah dikenali antara lain:

  1. Kehilangan minat pada hal-hal yang biasa dinikmati
  2. Tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit, atau tampak mengantuk sepanjang hari
  3. Menghabiskan lebih banyak waktu sendirian, dan menghindari kegiatan sosial dengan teman atau keluarga
  4. Sering berbicara tentang ketakutan atau kekhawatiran
  5. Mengeluh tentang sering sakit perut atau sakit kepala tanpa sebab medis yang diketahui
  6. Ketakutan bertambah berat, atau diet dan olahraga berlebihan

Langkah Pencegahan Galau

Diperkirakan 10-20% remaja secara global mengalami kondisi kesehatan mental, namun jumlahnya masih kurang terdiagnosis dan terobati.

Ada beberapa langkah awal yang dapat dilakukan sebagai bagian dari pencegahan stres di kalangan remaja yakni berupa pengaturan pola tidur yang sehat; berolahraga secara teratur; mengembangkan keterampilan pemecahan masalah bersama, dan memperbaiki hubungan dengan orang lain; dan belajar mengelola emosi.

Ketika tidak dicegah dan diobati, gangguan kesehatan mental dapat menyebabkan konsekuensi yang lebih serius  bahkan dapat mengancam jiwa. Depresi, gangguan kesehatan mental lainnya, dan gangguan penggunaan narkoba adalah faktor pemicu bunuh diri yang merupakan penyebab utama nomor dua kematian pada remaja 15 hingga 24 tahun.

Pada 2013 dan 2014, remaja awal berusia 10 hingga 14 tahun lebih kemungkinan meninggal karena bunuh diri daripada kematian akibat kecelakaan kendaraan bermotor. Setiap kekhawatiran dari anggota keluarga atau dari penyedia layanan kesehatan tentang seorang remaja dengan gejala kesehatan mental, harus segera ditangani.

Sumber:

  • World Health Organization. Adolescent mental health. Retrieved from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health
  • National Institute of Mental Health. Child Adolescent Mental health. Retrieved from https://www.nimh.nih.gov/health/topics/child-and-adolescent-mental-health/index.shtml
  • Indarjo, Sofwan. Kesehatan Jiwa Remaja. KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat, [S.l.], v. 5, n. 1, july 2009. ISSN 2355-3596.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar 2018 (Report of Indonesian Basic Health Survey 2018),” 2018.
  • Dorn LD, Negriff S, Huang B, et al. Menstrual Symptoms in Adolescent Girls: Association with Smoking, Depressive Symptoms, and Anxiety. Journal of Adolescent Health. 2009;44(3):237-243.
  • Rey JM, Bella-awusah TT, Liu J. IACAPAP Textbook of Child and Adolescent Mental Health MOOD DISORDERS. 2015:1-36.
  • Graber JA. Pubertal timing and the development of psychopathology in adolescence and beyond. Hormones and Behavior. 2013;64(2):262-269.
  • U.S. Department of Health and Human Services, National Institute of Mental Health. Suicide prevention. 2017. Retrieved from https://www.nimh.nih.gov/health/topics/suicide-prevention/index.shtml
  • U.S. Department of Health and Human Services. Suicidal behavior. 2017. Retrieved from https://www.mentalhealth.gov/what-to-look-for/suicidal-behavior/
  • U.S. Department of Health and Human Services, Centers for Disease Control and Prevention. QuickStats: Death rates for motor vehicle traffic injury, suicide, and homicide among children and adolescents aged 10-14 years — United States, 1999–2014. 2016. Morbidity and Mortality Weekly Report, 65(43).
  • Sumber gambar: https://thumbs.dreamstime.com/b/depressed-teenagers-sadness-student-unhappy-stressed-teen-sad-boy-crying-girl-school-stress-anxious-introvert-lonely-bullying-138923457.jpg
Editor
Editor

Andi Imam Arundhana Thahir

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on telegram

Baca juga artikel kami yang lain: