COVID-19

Pandemik COVID-19 dan gejala depresi mahasiswa Indonesia: Sebuah ringkasan survei

Daftar Isi

“Gangguan mental pada remaja diakibatkan berbagai faktor. Krisis COVID-19 mungkin salah satu pemicunya.”

Sejak mewabahnya COVID-19 di Indonesia Maret lalu, tidak bisa dipungkiri membawa perubahan pada tatanan kehidupan di masyarakat ditinjau dari aspek kesehatan, ekonomi, maupun sosial. Selain penanganan medis, Pemerintah Indonesia juga telah berupaya mereduksi dampak COVID-19 terhadap masyarakat melalui berbagai macam skema bantuan, seperti bantuan langsung tunai (BLT), subsidi listrik, bantuan khusus sembako, serta bantuan sosial tunai lainnya kerjasama dengan pemerintah daerah. Akan tetapi, mayoritas program-program ini belum menjangkau dan cenderung mengabaikan kelompok rentan lainnya seperti mahasiswa.  

Sedikitnya ada tiga (3) alasan mengapa saya katakan mereka kelompok terbabaikan, diantaranya adalah: 1) mereka tidak tedampak secara langsung COVID-19, 2) peluang kontak langsung dengan COVID-19 lebih kecil dibandingkan tenaga medis, dan 3) dianggap memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik dibandingkan anak kecil dan orang tua.

Mengapa mereka disebut kelompok rentan, karena remaja dan dewasa awal cenderung berisiko gangguan mental emosional. Menurut laporan dari Substance Abuse and Mental Health Services Administration (SAMHSA), sekitar 20% orang dewasa usia 18-25 tahun pernah mengalami gangguan kejiwaan. Meskipun data ini tidak dapat merepresentasikan populasi secara keseluruhan, akan tetapi sangatlah wajar jika kita mulai untuk peduli pada mereka apalagi dengan adanya pandemik COVID-19 ini.

Sebuah survei mengenai kondisi fisik dan mental mahasiswa Indonesia di tengah kondisi pandemik COVID-19 pada awal April yang lalu. Hasilnya sangat mengejutkan, sebesar 31% mahasiswa Indonesia kemungkinan mengalami depresi atau telah menujukkan gejala depresi. Kami tidak berspekulasi mengaitkan gejala depresi ini diakibatkan oleh COVID-19, namun 27,2% mengatakan bahwa kabar berita mengenai COVID-19 ini cukup membebani kejiwaan mereka.

Pemicu depresi hingga pentingnya interaksi sosial

Pada remaja dan dewasa muda, banyak hal yang dapat memicu munculnya gejala depresi. Masih dari survei yang sama kami lakukan, munculnya gejala depresi pada mahasiswa dapat dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu tidur lebih lama dari biasanya, tidak bersama keluarga, dan tidak ada aktivitas yang dilakukan, terutama yang mampu menghasilkan income bagi mereka.

Pandemik COVID-19 mendorong orang-orang untuk tinggal di rumah saja dalam kurun waktu yang cukup lama, dan hal tersebut dapat menyebabkan perubahan aktivitas termasuk pola tidur. Ketika orang diharuskan tinggal di rumah saja dan tidak ada aktivitas, maka kemungkinan besar yang bisa dilakukan hanyalah tidur. Ketidakstabilan pola tidur, apakah kurang maupun berlebih berkaitan dengan stres dan tekanan emosional.

Survei ini juga melaporkan proporsi gejala depresi yang lebih rendah pada mahasiswa yang memiliki aktivitas/pekerjaan dibandingkan yang tidak ada aktivitas (20,3% vs 31,9%). Orang yang memiliki kesibukan akan teralihkan dari pikiran-pikiran negatif sehingga gangguan mental bisa terhindarkan. Adanya income yang diperoleh bisa mencegah kerentanan ekonomi, salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan mental. Terlebih bila orang tua mahasiswa tersebut adalah kelompok yang terdampak secara ekonomi akibat COVID-19, tentu memiliki penghasilan sendiri bisa membantu mereka bertahan hidup.

Hal lain, kurangnya interaksi sosial berdampak negatif pada kondisi emosional mahasiswa. Anjuran untuk tidak mudik serta jaga jarak sosial dan fisik mengakibatkan sebagian mahasiswa “terjebak” di kos/kontrakan mereka seorang diri. Salah satu anggota tim survei, seorang psikolog, berpendapat bahwa kondisi demikian semakin memberi tekanan pada mental mahasiswa. Apalagi secara budaya orang Indonesia, keterlibatan dengan anggota keluarga lain sangat berharga dalam kehidupan karena anggota keluarga saling tergantung satu sama lain.

Dukungan orang tua dan maupun anggota keluarga yang lain melalui komunikasi tatap muka (face-to-face communication) saat masa-masa sulit ini sangatlah penting.

Pendekatan berbasis komunitas dan keluarga mungkin menjadi solusi alternatif

Selain mengalami perubahan pada kehidupan sehari-hari diakibatkan karena pandemik COVID-19, sebagian besar para mahasiswa masih “terbebani” dengan proses perkuliahan yang dilaksanakan secara dalam jaringan (daring). Padahal, tidak semua mahasiswa memiliki kondisi yang sama atau standar hidup yang sama, menyebabkan dampak yang dirasakan akan bervariasi. Oleh sebab itu, Pemerintah dan seluruh elemen masyarakat sudah seharusnya mendukung mereka, untuk menunjang standar hidup mahasiswa sehingga meminimalkan risiko terhadap kejiwaan mereka.

Hal yang bisa dilakukan adalah pendekatan berbasis komunitas dan keluarga. Setiap orang melakukan “pemantauan” dan berikan sedikit perhatian terhadap tetangga-tetangganya. Barangkali ada diantara mereka ada adik-adik mahasiswa yang sedang tertekan karena tidak bisa mudik, karena tidak bisa makan atau tidak bisa membeli pulsa untuk kuliah dan mengerjakan tugas. Bukankah dalam adab agama apapun, memuliakan tetangga sangatlah dianjurkan. Maka bantu mereka dan laporkan pada RT/RW atau Lurah/Kepala Desa.

Pemerintah setempat juga harus proaktif dan reaktif, menyiapkan bantuan dasar dan bisa memfasilitasi mereka yang membutuhkan. Misalnya dengan melakukan pemantauan yang ketat, jika lolos maka fasilitasi mereka untuk pulang kampung dan berkumpul dengan keluarga. Tentu ini akan menjadi cara yang baik untuk menyehatkan fisik dan mental mereka.

Setidaknya ada tiga (3) langkah yang bisa dilakukan warga masyarakat:

  1. Identifikasi tetangga yang mengontrak/kos
  2. Kunjungi mereka, tentu dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat (menggunakan masker dan jaga jarak)
  3. Laporkan ke pemerintah setempat dan galang bantuan untuk mereka.

Masyarakat tidak perlu khawatir untuk melakukan kontak dengan mereka. Berdasarkan data yang tim survei miliki, sebagian besar mahasiswa telah paham dan menerapkan pedoman pencegahan COVID-19 dari pemerintah, seperti menjaga jarak (93,8%), cuci tangan menggunakan sabun (96,7%), memakai masker ketika keluar rumah (76,3%), dan selalu menggunakan hand sanitizer (47,5%). Infografis dapat dilihat di sini.

Kemudian untuk para orang tua, pantau anak-anak kita yang ada diperantauan. Berikan perhatian lebih di masa-masa sulit ini. Barangkali mereka cukup malu untuk meminta perhatian dari orang tua, maka kitalah yang sebaiknya memulai percakapan. Jika kita sebagai orang tua kita merasakan dampak merugikan dari COVID-19 ini, apalagi mereka.

Sumber:

Editor
Editor

Asriadi Masnar

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on telegram

Baca juga artikel kami yang lain: