Meningkatkan Gizi, Keamanan dan Inovasi Makanan

Eko Sutrisno
Eko Sutrisno

Dosen di Prodi Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Islam Majapahit Mojokerto. Aktif dalam penanganan stunting di desa wilayah Kec. Glagah Lamongan Jawa Timur.

Daftar Isi

Seiring bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia yang mencapai lebih dari 250 juta jiwa, secara tidak langsung mempengaruhi kebutuhan pangan. Oleh karena itu, dibutuhkan inovasi makanan (pangan) yang dapat memenuhi  kecukupan gizi masyarakat. 

Gizi yang dikonsumsi oleh masyarakat sebenarnya sudah mengalami kenaikan dari 77,5 (2003) menjadi 82,8 (2007) berdasarkan skor mutu gizi pangan (PPH), tetapi Kemenkes RI menyebutkan bahwa 1 dari 4 balita di Indonesia mengalami stunting. Hal ini menandakan bahwa masih terdapat masalah pangan dan gizi yang berimplikasi pada status gizi. 

Jumlah gizi yang diperlukan oleh seseorang dalam satu hari hampir mencapai 45 jenis yang diperoleh melalui bahan makanan yang dikonsumsi. Semua jenis gizi tersebut tidak mungkin didapatkan dari satu jenis makanan, maka diperlukan penganekaragaman pangan dan gizi pada bahan pangan menggunakan teknologi perlu dilakukan. 

Kekayaan Alam Indonesia

Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang besar dan jenis makanan lokal yang sangat beragam. Tumbuhan jenis pangan jumlahnya ± 800 spesies, ± 1.000 spesies tumbuhan obat dan ribuan spesies alga. Karena kurangnya inovasi dan teknologi guna memaksimalkan potensi tersebut, hingga saat ini jenis tanaman yang dikenal dapat menghasilkan karbohidrat baru 77 jenis, 75 jenis tumbuhan sebagai penghasil lemak/minyak, 26 jenis kacang-kacangan, 89 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, 40 jenis bahan minuman, 110 jenis rempah-rempah dan bumbu-bumbu 

Penggunaan teknologi penganekaragaman dan pengolahan makanan tidak boleh melupakan aspek keamanan pangan karena hal itu dapat  memengaruhi mutu makanan. Mutu makanan merupakan kepuasan konsumen pada suatu produk pangan yang dihasilkan oleh produsen dan telah memenuhi kriteria yang ditentukan. Secara kasat mata, produk pangan yang baik telah memenuhi unsur indra/sensori, seperti kerenyahan, kelembutan, kekentalan atau kekenyalan, bau, aroma, rasa dan warna. Produk olahan pangan juga harus bebas dari senyawa kimia berbahaya (logam–logam berat) dan tidak mengandung bakteri Eschericia coli dan bakteri berbahaya lainnya. 

Sertifikasi Mutu Pangan

Meningkatnya kesadaran akan pentingnya mutu makanan, maka munculnya beberapa aturan dalam produksi olahan pangan, diantaranya yaitu CPMB atau Cara Produksi Makanan yang Baik atau lebih dikenal dengan istilah GMP (Good Manufacturing Practices) dan HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point). Adanya aturan tersebut, minimal kebutuhan tentang: 

1) Keamanan pangan (food safety) saat proses produksi dapat terpenuhi sehingga mengurangi hal-hal yang dapat menimbulkan penyakit karena adanya zat kimia, fisika dan biologi ikut terbawa oleh bahan olahan pangan

2) Menjamin bahan pangan tidak terkontaminasi sehingga kesehatan dan kebersihan pangan (whole-someness) lebih terjamin, dan

3). Mengurangi atau bahkan meniadakan kecurangan yang dilakukan oleh produsen kepada konsumen, misalnya pemalsuan bahan baku, penggunaan bahan tambahan yang berlebihan, berat yang tidak sesuai dengan label, “overglazing” dan jumlah yang kurang dalam kemasan. 

Peningkatan mutu gizi pangan dilakukan untuk meningkatkan ketersediaannya sebagai sumber zat gizi melalui beberapa cara Fortifikasi dan Enrichment (pengayaan), pengembalian, penambahan zat gizi yaitu proses penambahan atau penggantian mikronutrien atau unsur-unsur tertentu seperti vitamin terhadap bahan pangan agar nilai gizinya lebih tinggi daripada sebelumnya sesuai standar yang telah ditetapkan secara nasional dan internasional. Standar yang digunakan bisa menggunakan international yaitu ISO seri 9000 sampai dengan ISO-9004, ISO 22000 dan ISO 14000 (EMS) untuk menjamin produk pangan yang berwawasan lingkungan. 

Pengawasan mutu untuk produksi olahan makanan skala rumah tangga atau UMKM bisa melalui izin dinas Kesehatan setempat sehingga munculnya ijin informasi P-IRT bisa ditempelkan pada kemasan produk. Selain dari dinas Kesehatan, label keamanan pangan juga bisa diperoleh dari Lembaga BPOM dan MUI untuk label halal.

Produk Olahan dan Pemasarannya

Saat ini, banyak produk olahan pangan yang beredar di masyarakat walaupun sedikit asing di pendengaran kita.  Contoh sederhana yaitu, saat kita mendengar kata bekatul, yang dalam pikiran kita adalah limbah dari penggilingan padi dan untuk makanan ternak. Adanya inovasi dan teknologi bekatul bisa dibuat produk olahan berbentuk sereal. 

Contoh lain, pemanfaatan tanaman pisang biasanya hanya pada buahnya. Saat ini selain dimakan langsung, pisang dapat dibuat menjadi kripik, selai dll. Pisang dapat dibuang menjadi tepung pisang dan sebagai bahan campuran dalam proses pembuatan mie, sehingga mie tersebut banyak mengandung vitamin dari tepung pisang. Selain itu, ontongnya dapat dibuat menjadi dendeng, sebagai pengganti daging,bonggol batang pisang dapat dimanfaatkan menjadi kerupuk. 

Inovasi atau kreasi olahan pangan berbahan baku lokal saat ini mulai banyak digandrungi. Para inovator dan kreator menggunakan berbagai nama dan bentuk penyajian dengan mengikuti trend yang terjadi saat ini sehingga produk menjadi lebih cepat populer. Adanya media sosial memudahkan para kreator untuk memasarkan produk yang telah dibuat. Pada tahun 2018 KataData.com menyatakan bahwa konsumen yang online di Indonesia sudah mencapai 8,7 juta jiwa dengan jumlah transaksi hampir 144 T

Sumber:

  • Kanza, A. A. dan S. C. Umar. 2015. Mutu, Gizi dan Keamanan Pangan. Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jatinagor. Universitas Padjadjaran. 
  • Sibuea, S. M., E. H. Kardhinata., dan S. Ilyas. 2014. Identification and Inventory type of Tuberous crops that Potential as a Source of Alternative Carbohydrates in Serdang Bedagai Regency. Jurnal Online Agroekoteknologi. ISSN No. 2337- 6597 Vol. 2 (4). Hal : 1408 – 1418.
  • https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/11/16/transaksi-e-commerce-indonesia-naik-500-dalam-5-tahun
  • Sumber gambar: www.instagram.com/asriorganik/?hl=id dan https://tp.uad.ac.id/
Editor
Editor

Asriadi Masnar S.Gz., M.Sc.

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on telegram

Baca juga artikel kami yang lain: