Waspada Jenis Gula Ini! Meningkatkan Risiko Gemuk dan Sakit Jantung

Daftar Isi

“Lemak seringkali menjadi tertuduh sebagai penyebab kegemukan, padahal ia tidak lebih berbahaya jika dibandingkan gula dan jika tidak dikonsumsi berlebih. Lemak juga sumber energi bagi tubuh, karena itu tetap konsumsi ya!”

Secara umum, kegemukan disebabkan karena ketidakseimbangan energi, energi dikeluarkan melalui proses metabolisme serta aktivitas dan energi yang diperoleh dari makanan yang dikonsumsi.

Namun, untuk menjaga kestabilan berat badan dan kesehatan, tidak cukup dengan hanya memerhatikan keseimbangan energi secara keseluruhan, tetapi juga perlu untuk memerhatikan secara khusus apa yang Anda makan.

Mengapa? Karena ternyata ketidakseimbangan zat-zat tertentu dapat berakibat pada kesehatan Anda. Sebagai contoh, konsumsi gula yang berlebih dapat menyebabkan kenaikan glukosa darah. Oleh sebab itu, konsumsi gula harus sesuai dengan anjuran. Konsumsi gula lebih dari 4 sendok makan atau setara dengan 50 gr dapat meningkatkan risiko diabetes, stroke, dan bahkan serangan jantung.

Nah, Anda juga harus waspada dengan jenis gula fruktosa, karena gula ini dapat meningkatkan risiko-risiko tersebut di atas beberapa kali lipat.

Beberapa studi menghubungkan konsumsi gula dan khususnya fruktosa dengan tingginya angka obesitas. Gula jenis fruktosa ini dapat dengan mudah Anda temukan di minuman-minuman manis baik yang dijual di restoran cepat saji maupun di retail-retail minuman. Menurut studi yang dilakukan Haning dkk. pada tahun 2016, sekitar 35 gr jumlah gula dalam setiap sajian minuman manis. Maka tidak heran konsumsi fruktosa juga meningkat drastis seiring dengan semakin diminatinya minuman-minuman manis oleh masyarakat.

Ada Apa dengan Gula Fruktosa?

Berbeda halnya dengan glukosa yang dapat merangsang kerja hormon nafsu makan, fruktosa tidak mampu mengirimkan rangsangan ke sistem saraf pusat untuk mengatur pembatasan makan dan pengeluaran energi.  Akibatnya, orang yang mengonsumsi banyak fruktosa akan selalu memiliki rangsangan untuk mengonsumsi makanan. Tentu saja ini buruk untuk berat badan dan sensitivitas insulin Anda.

Dalam sebuah artikel ilmiah yang diterbitkan dalam the American Journal of Clinical Nutrition di awal tahun 2000, disebutkan bahwa konsumsi fruktosa mempengaruhi sistem endokrin, meningkatkan berat badan dan jaringan adiposa/penyimpanan lemak.

Konsumsi fruktosa dalam jumlah banyak dan dalam jangka waktu yang panjang, menyebabkan gangguan pada hormon leptin dan grelin (hormon-hormon berkaitan dengan nafsu makan), dan dengan demikian berkontribusi terhadap kenaikan berat badan dan obesitas.

Pada tingkat berlebih, konsumsi fruktosa dapat mengubah metabolisme lipid dan karbohidrat sehingga mendorong penumpukan lemak. Fruktosa yang dikonsumsi hanya dapat dimetabolisme oleh hati. Konsumsi yang berlebihan dapat membebani kerja hati, dan apabila hati tidak mampu memrosesnya maka fruktosa akan diubah dan diteruskan ke aliran darah dalam bentuk trigliserida. Sebuah studi menunjukkan peningkatan kadar trigliserida pada mereka yang mengonsumsi fruktosa dan tidak ada perubahan pada kelompok konsumsi glukosa.

Mengapa Gula Fruktosa Banyak Digunakan pada Minuman Manis?

Selain berbeda dalam hal metabolismenya, fruktosa juga memiliki rasa yang lebih enak dan lebih gurih dibandingkan glukosa. Oleh karena itu, fruktosa lebih “layak” digunakan sebagai bahan pemanis minuman. Dari segi harga, biaya produksi menggunakan fruktosa jauh lebih murah dibandingkan menggunakan glukosa.

Karena alasan itulah maka tidak heran banyak minuman manis memanfaatkan fruktosa, biasanya jenis high-fructose corn syrup, dalam minuman-minuman manis (sugar-sweetened beverages). Dalam high-fructose corn syrup, kandungan fruktosa jauh lebih tinggi dibandingkan glukosanya. Oleh karena itu, sebisa mungkin hindari minum minuman manis untuk menghindari risiko yang mungkin muncul akibat konsumsi fruktosa berlebihan.

Konsumsi satu porsi dalam sepekan adalah jumlah yang sangat cukup jika memang Anda masih ingin mengonsumsinya. Kemudian apabila Anda telah mengonsumsi minuman manis, maka pada hari itu Anda harus mengontrol konsumsi gula Anda. Lebih baik sejak awal Anda dapat menerapkan prinsip gizi seimbang, agar kesehatan terjaga dan hidup lebih berkualitas.

Anda bisa ganti konsumsi minuman dengan teh atau kopi yang Anda seduh sendiri. Paling tidak Anda bisa menjamin jenis gula yang Anda gunakan (sukrosa). Ingat! Jangan berlebih juga.

Lebih baik konsumsi air putih atau air yang dicampur madu apabila Anda lebih senang dengan rasa manis. Madu memiliki kandungan gula yang lebih beragam tidak hanya fruktosa dan disertai dengan komponen-komponen bioaktif lainnya yang bermanfaat bagi tubuh Anda.

Sumber:

  • Haning MT, Arundhana AI, Muqni, AD. 2016. The government policy related to sugar-sweetened beverages in Indonesia. Indian Journal of Community Health, 28(3): 222-227.
  • Pereira, R. M., Botezelli, J. D., da Cruz Rodrigues, K. C., Mekary, R. A., Cintra, D. E., Pauli, J. R., da Silva, A., Ropelle, E. R., & de Moura, L. P. (2017). Fructose Consumption in the Development of Obesity and the Effects of Different Protocols of Physical Exercise on the Hepatic Metabolism. Nutrients, 9(4), 405.
  • Andi Imam Arundhana. 2013. Bukan lemak yang harus diwaspadai, tapi gula, khususnya fruktosa. Dapat diakses di catatanseorangahligizi.wordpress.com
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 41 tahun 2014. Tentang Pedoman Gizi Seimbang.
  • Sumber gambar: https://lampuhijau.com
Editor
Editor

Asriadi Masnar

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on telegram

Baca juga artikel kami yang lain: