remaja

Remaja Indonesia Hadapi 3 Masalah Gizi (Triple Burden)

Rahayu Indriasari PhD
Rahayu Indriasari PhD

Daftar Isi

Remaja merupakan satu periode kehidupan terpenting setelah masa kanak-kanak. Ada empat perubahan besar terjadi di masa ini.  Pertama, remaja mengalami perubahan biologis yang membedakan ciri fisiknya secara mencolok dengan anak kecil, namun juga belum sempurna menyerupai orang dewasa.

Perubahan ini disebut masa pubertas yang ditandai dengan lonjakan pertumbuhan (growth spurt) yaitu bertambahnya tinggi dan berat badan secara cepat dan berkembangnya organ reproduksi sekunder.

Kedua, remaja mengalami perubahan kognitif dengan berkembangnya kemampuan berpikir secara konkret dan abstrak.

Ketiga, perubahan emosional di mana remaja menunjukkan ego yang besar dan perilaku impulsif jika terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan atau keinginannya.

Keempat, keinginan untuk diakui dan menjadi terbaik di antara teman sebayanya, sebagai wujud perubahan sosial yang dialami remaja tersebut.

Perubahan fisik dan kognitif ini menyebabkan meningkatnya kebutuhan gizi untuk mendukung proses tumbuh kembangnya secara optimal. Jika asupan gizi harian tidak terpenuhi, maka mereka akan rentan mengalami masalah gizi yang berdampak pada gagal tumbuh, terhambatnya kematangan sistem reproduksi dan tidak optimalnya perkembangan kognitif mereka.

Perubahan emosional dan sosial juga membuat remaja rentan melakukan perilaku yang berisiko, termasuk perilaku makan yang kurang baik, sehingga berdampak negatif terhadap status gizi ataupun kesehatannya.

Fase Remaja dan Risiko Masalah Gizi yang Dihadapi

Badan Organisasi Dunia/World Health Organization (WHO) mendefinisikan remaja dengan batasan usia 10-21 tahun. Fase remaja dibagi tiga, yaitu awal, pertengahan, dan akhir. Di ketiga fase ini remaja mengalami perubahan fisik, emosional, kognitif, dan sosial yang berbeda, yang menyebabkan kebutuhan gizi juga berbeda. Sehingga, perbedaan kebutuhan tersebut sangat penting diperhatikan agar kebutuhan gizi mereka dapat dipenuhi secara optimal.

Pemenuhan kebutuhan gizi pada remaja secara langsung diperoleh dari asupan makanan dan minuman sehari-hari. Jika kebiasaan makan dan minum remaja kurang baik, maka kebutuhan gizi tidak terpenuhi secara optimal dan menyebabkan remaja rentan mengalami masalah gizi.

Masalah gizi pada remaja dapat digolongkan menjadi dua, yaitu gizi kurang (undernutrition) dan gizi lebih (overnutrition). Gizi kurang menyebabkan remaja menjadi kurus, pendek atau kerdil, sementara gizi lebih menyebabkan kegemukan atau obesitas.

Remaja dikatakan kurus apabila memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT), yang dihitung perbandingan tinggi badan dan berat badan, tidak sesuai dengan usianya. Dengan kata lain lebih kecil daripada nilai IMT remaja seusianya.

Pendek atau kerdil (stunting) diindikasikan dengan tinggi badan yang kurang dari tinggi badan standar sesuai umur remaja, dengan kata lain lebih pendek daripada remaja seusianya. Remaja dikatakan gemuk jika memiliki IMT melebihi standar remaja seusianya.

Kondisi status gizi seperti ini tentunya akan menyebabkan kekurangan fisik dari aspek penampilan, sehingga terkadang remaja merasa tidak percaya diri dengan penampilan fisiknya. Kondisi status gizi yang tidak normal dapat berdampak pada menurunnya imunitas tubuh, meningkatkan risiko penyakit infeksi, menurunkan konsentrasi belajar, kemampuan kognitif dan menurunkan produktivitas.

Kegemukan dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular (PTM) seperti penyakit hipertensi, gangguan jantung dan sistem pembuluh darah, diabetes melitus tipe 2, stroke, dan kanker.  

Masalah gizi remaja di Indonesia merupakan isu yang sangat penting untuk dicermati karena sejumlah alasan. Pertama, Indonesia mengalami bonus demografi di mana jumlah penduduk berusia remaja cukup besar, sekitar 24 persen dari total penduduk.

Kedua, remaja merupakan generasi penerus yang menentukan nasib bangsa dan negara Indonesia di masa depan, sehingga kualitas hidup dan kesehatannya sangat perlu ditingkatkan. Mereka harus dapat bersaing dalam arena kompetitif regional dan global agar negara kita tak tertinggal dibandingkan negara-negara lain.

Untuk itu diperlukan kemampuan daya saing yang tinggi atau dikenal sebagai Human Development Indeks (HDI) atau indikator kualitas manusia. HDI yang tinggi hanya dapat tercapai jika kondisi kualitas pendidikan, kesehatan termasuk status gizi, dan ekonomi pada remaja dan lingkungannya juga baik.

Sayangnya, saat ini Indonesia masih menghadapi tantangan masalah gizi remaja yang cukup berat. Ini menjadi alasan ketiga, mengapa masalah gizi remaja Indonesia membutuhkan perhatian khusus.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018, terdapat sekitar 25 persen remaja perempuan dan 26,5 persen remaja laki-laki, berumur 13-15 tahun, mengalami stunting dan masing-masing 5 persen dan 11 persen dari kedua kelompok tersebut berstatus gizi kurus. Sementara angka obesitas sebesar 16 persen, baik pada perempuan maupun laki-laki.

Pada remaja kelompok usia 16-18 tahun, situasi masalah gizi juga didominasi masalah gizi kurang. Sebanyak 25 persen remaja perempuan dan 28 persen remaja laki-laki mengalami stunting, sementara 4 persen remaja perempuan dan 11 persen remaja laki-laki dalam kondisi kurus. Obesitas juga dialami kelompok remaja usia tersebut, sebanyak 16 persen perempuan dan 11 persen laki-laki.

Mencermati data tersebut, dapat disimpulkan bahwa remaja Indonesia tidak hanya menghadapi tantangan masalah gizi kurang, utamanya stunting, namun juga masalah gizi lebih. Tantangan tersebut diperberat dengan tingginya defisiensi gizi mikro di kelompok usia ini.

Defisiensi Gizi Mikro, Memperparah Beban Ganda Masalah Gizi Remaja

Defisiensi gizi mikro juga memiliki kontribusi nyata terhadap gangguan tumbuh kembang remaja termasuk penurunan kualitas kognitif/kecerdasannya. Salah satu manifestasi defisiensi gizi mikro adalah anemia, yang rentan dialami remaja putri.

 

Baca juga: Remaja Putri dan 6 Tips Diet Sehatnya

 

Angka anemia pada remaja putri usia 15-24 tahun sebesar 32 persen. Dengan demikian, seorang remaja di Indonesia kemungkinan besar mengalami tiga beban (triple burden) masalah gizi, yang apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat dapat menurunkan kualitas individu dan kualitas hidup mereka. Tantangan ini seharusnya menjadi corcern berbagai pihak dan fokus dalam penanggulangannya.

Pemerintah telah melakukan upaya-upaya pencegahan (preventif) dan penanganan (kuratif) untuk menurunkan triple burden masalah gizi ini. Namun percepatan keberhasilan penanggulangannya perlu didukung berbagai pihak, termasuk masyarakat, orangtua, dan remaja itu sendiri.

Dengan dukungan bersama, diharapkan remaja Indonesia dapat bebas dari ancaman masalah triple burden of malnutrition, sehingga serta kualitas manusia Indonesia dapat meningkat dan berdaya saing tinggi di kancah internasional.

Sumber:

  • Brown, Judith E. 2011. Nutrition through the Life Cycle (4th ed). United States of America: Wadsworth, Inc. Thomson Learning.
  • World Health Organization. (‎2005)‎. Nutrition in Adolescence: Issues and Challenges for the Health Sector: Issues in Adolescent Health and Development. World Health Organization. Diakses Januari 2020, https://apps.who.int/iris/handle/10665/43342
  • Badan Pusat Statistik Indonesia, 2019. Statistik Pemuda Indonesia 2019. Diakses 25 Juni 2019, https://www.bps.go.id/publication/2019/12/20/8250138f59ccebff3fed326a/statistik-pemuda-indonesia-2019.html
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2018. Laporan Nasional RISKESDAS 2018 Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
  • Sumber gambar: https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/
Editor
Editor

Wahyu Chandra

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on telegram

Baca juga artikel kami yang lain: