pangan

Ketahanan Pangan Masyarakat Perdesaan

Daftar Isi

“Masih banyak orang yang belum mengerti mengenai ketahanan pangan, padahal hal ini sangat penting untuk menjamin kesehatan kita sehingga kita dapat hidup sehat, aktif dan produktif secara berkelanjutan.”

Apa Sih Ketahanan Pangan Itu?

Selama masa pandemi ini, ketahanan pangan adalah istilah yang sering dibahas dan disebut-sebut oleh kalangan akademis, pemerintahan dan organisasi internasional. FAO misalnya, menyatakan pandemi COVID-19 dapat memengaruhi keamanan pangan global, karena telah mengganggu ketersediaan tenaga kerja dan rantai pasokan.

“Kami menilai ada risiko tinggi krisis pangan kecuali diambil tindakan cepat untuk melindungi mereka yang paling rentan, menjaga rantai pasokan pangan global tetap hidup dan mengurangi dampak pandemi di seluruh sistem pangan,” tulis FAO di situs resminya akhir Maret 2020 lalu.

Berdasarkan warning FAO ini pemerintah telah melakukan berbagai upaya mencegah krisis pangan ini terjadi. Salah satu bentuk intervensinya adalah di sektor pertanian dengan memberi berbagai insentif kepada petani di pedesaan selama masa pandemi.

Benarkah masyarakat pedesaan paling rentan terdampak pandemi COVID-19 ini? Jika terkait mata rantai pangan mungkin iya, namun jika terkait ketahanan pangan, masyarakat pedesaan justru lebih kuat dibanding masyarakat kota, sebagaimana hasil temuan penelitian kami pada 2016 silam. Pada penelitian ini kami mengambil sampel dari dua daerah di Sulawesi Selatan, yaitu Kota Makassar mewakili daerah perkotaan, dan Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).

Kenapa ketahanan pangan masyarakat pedesaan lebih kuat dibanding perkotaan? Ada dua faktor penyebabnya. Pertama, karena daerah pedesaan identik dengan daerah pertanian yang dapat ditanami pangan pokok seperti padi, singkong dan jagung. Kegiatan pertanian inilah yang memberikan kontribusi besar pada konsumsi yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap ketahanan pangan rumah tangga.

Kedua, sebagian besar rumah tangga di pedesaan masih memiliki lahan sekitar rumah/pekarangan/kebun. Lahan sekitar rumah/pekarangan/kebun biasanya  dimanfaatkan oleh masyarakat desa untuk ditanami tanaman pangan seperti singkong dan sayuran. Bahkan banyak masyarakat yang juga memanfaatkan pekarangan rumah mereka untuk memelihara hewan ternak seperti ayam. Hal inilah yang memengaruhi keragaman pangan masyarakat yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap ketahanan pangan masyarakat pedesaan.

Beberapa studi menunjukkan bahwa bercocok tanam dapat meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga. Ini karena bercocok tanam dapat menyediakan akses langsung terhadap makanan yang dapat dipetik dan dikonsumsi oleh anggota rumah tangga setiap hari, sehingga menyediakan makanan sumber sayuran dan buah-buahan yang kaya vitamin dan mineral.

Semakin banyak jumlah tanaman pangan dan ternak yang dimiliki masyarakat, maka persediaan makanan masyarakat juga akan meningkat. Hal ini akan membuat ketahanan pangan masyarakat menjadi baik. Ternak dan tanaman pertanian memiliki hubungan saling menguntungkan. Ternak mendapatkan makanan dari rumput atau limbah tanaman pertanian, dan sebaliknya, kotoran ternak dapat digunakan sebagai pupuk kandang yang dapat menyuburkan lahan pertanian dan meningkatkan produksi tanaman pertanian.

Memahami Ketahanan Pangan dan Kaitannya dengan Status Gizi

Ketahanan pangan ini sangat berkaitan dengan kondisi ekonomi seseorang ataupun rumah tangga, terlebih lagi di masa pandemi ini. Di saat banyak keluarga yang penghasilannya menurun dan bahkan kehilangan pekerjaan. Dan ini berdampak pada kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga yang dapat berdampak pada status gizi keluarga.

Lalu, Apa Kaitan Ketahanan Pangan dan Status Gizi?

Sholikah dkk. bahwa salah satu penyebab masalah gizi yaitu masalah ketahanan pangan rumah tangga, yaitu kemampuan rumah tangga dalam memperoleh makanan untuk seluruh anggota rumah tangganya. Hal ini mencerminkan kurangnya kemampuan rumah tangga untuk mengakses dan memperoleh makanan. Salah satu faktor penyebabnya adalah pendapatan yang rendah dan kemiskinan.

 

Loopstra dkk. menjelaskan bahwa keluarga yang berpenghasilan rendah akan meningkatkan risiko kerawanan pangan. Sedangkan setiap orang berhak memperoleh makanan yang layak dan sesuai dengan kebutuhannya. Untuk itu, ketahanan pangan adalah Hak Asasi Manusia (HAM) yang wajib dipenuhi.

 

Namun, ketahanan pangan yang tercapai pada tingkat wilayah (Provinsi, Kabupaten/Kota) belum tentu menjamin ketahanan pangan pada tingkat rumah tangga. Hal ini tergantung kemampuan rumah tangga dalam menyediakan pangan di rumah yang tentunya juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi rumah tangga.

 

Definisi ketahanan pangan dalam UU Pangan No.18 tahun 2012 adalah terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif dan produktif secara berkelanjutan. Pada PP No.17 tahun 2015, definisi ini telah diubah dengan menambahkan status gizi sebagai outcome dari ketahanan pangan dan gizi.

Sumber:

  • Ibok WO, Idiong IC, Brown IN, Okon IE, Okon UE. 2014. Analysis of food insecurity status of urban food crop farming households in cross river state, Nigeria: A USDA Approach. Journal of Agricultural Science. 6(2): 132-141.
  • Loopstra R, Reeves A, Tarasuk V. The rise of hunger among low-incomehouseholds: an analysis of the risks of food insecurity between 2014 and 2016 in a population-based study of UK adults. J Epidemiol and Community Health. 2019; 73(7):668-673. doi: 10.1136/jech-2018- 211194.
  • Rahmawati W, Erliana UD, Habibie IY, Harti LB. 2014. Ketahanan pangan keluarga balita pasca letusan Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, Indonesia. Indonesian Journal of Human Nutrition. 1(1): 35-49.
  • Sumber gambar: www.freepik.com/
Editor
Editor

Wahyu Chandra

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on telegram

Baca juga artikel kami yang lain: