Anak Pendek, 3 Faktor Ini Penyebabnya

Daftar Isi

“Banyak hal yang menyebabkan seorang ibu sering kali merasa jengkel ketika berkumpul bersama ibu-ibu lainnya, apalagi saat membicarakan fisik anak. Abaikan itu semua dan tenang! Anda yang paling tahu anak Anda.”

Anak pendek sering kali menjadi masalah yang menghantui para ibu. Betapa tidak, kondisi fisik anak sering dijadikan bahan “diskusi” ketika ada acara kumpul-kumpul seperti saat arisan, pengajian, ataupun pertemuan non-formal lainnya. Coba bayangkan bagaimana perasaan seorang ibu yang ketika ia merasa telah memberikan yang terbaik dalam pengasuhan anaknya, lantas kemudian ibu-ibu lain nyerocos mengatakan “Lah anaknya usia berapa? Kok kecil ya?”. Atau dalam kesempatan lain saya pernah mendengar seorang ibu berkata ke ibu yang lainnya, “Anak saya 1 tahun lebih muda, sama ya besarnya dengan anakmu”.

Meskipun mungkin maksud ibu-ibu yang berkata seperti itu bukan untuk menghina atau menjatuhkan, tapi tentu kalimat-kalimat tersebut mengganggu batin seorang ibu.

Nah! Untuk itu ada baiknya mengenali kondisi anak Anda. Apakah anak termasuk kategori pendek? Lalu apa saja penyebabnya? Dengan mengenali status gizi anak Anda dan apa faktor penyebab anak pendek, Anda bisa melakukan perbaikan, misalnya dengan memberikan pola asuh yang tepat untuk anak Anda.

1. Ketahui Kondisi Gizi Anak Anda

Ada banyak indikator yang dapat digunakan untuk menentukan status gizi anak dan semuanya memiliki implikasi. Salah satu yang sering digunakan oleh para ahli gizi adalah status pendek karena indikator ini merupakan indikator kesehatan anak di masa mendatang.

Anak pendek, istilah ilmiahnya dikenal sebagai stunting, dapat diketahui melalui hasil pengukuran panjang badan (jika anak berusia dua tahun atau kurang) atau tinggi badan (jika berusia lebih dari dua tahun). Setelah hasilnya ada, nilai tersebut akan dimasukkan dalam kurva pertumbuhan yang disesuaikan dengan usia anak tersebut.

Jika nilainya kurang dari -2 nilai baku pengukuran (disebut standar deviasi), maka anak Anda dikategorikan pendek. Jika Anda rutin hadir ke Posyandu, tentu Anda bisa dengan mudah mengetahui tumbuh kembang anak Anda karena ahli gizi akan memberi tahu nilai baku pengukuran dan maknanya.

2. Apa Saja Penyebab Anak Pendek?

Banyak faktor penyebab anak menjadi pendek, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sedikitnya ada 3 faktor yang penulis anggap sebagai kontributor langsung penyebab anak pendek, di antaranya;

1. Pola Asuh. Pola asuh yang tidak tepat dianggap sebagai faktor utama terjadinya gangguan pertumbuhan anak. Anak yang seharusnya memperoleh ASI saja di usia 6 bulan pertama, tapi justru diberikan makanan lain selain ASI. Memang dalam hal komposisi energi bisa saja sama, tapi anak tidak akan mendapatkan banyak zat-zat aktif yang hanya ada pada ASI dan tidak ada pada makanan lainnya. Selain itu, memberikan makanan selain ASI belum tentu bermanfaat, karena sistem pencernaan anak saat itu belum matang.

2. Gangguan sistem pencernaan. Pendek, bisa bermula dari adanya peradangan lapisan halus usus sehingga menyebabkan gangguan pada sistem pencernaan. Gangguan pada sistem pencernaan bisa menghambat penyerapan zat gizi dalam usus. Ini akan mengubah keseimbangan komposisi mikrobiota/bakteri usus yang berpotensi meningkatkan bakteri penyebab peradangan yang bisa memperparah kondisi anak. Kondisi ini banyak ditemukan di daerah-daerah dengan lingkungan yang tidak bersih dengan paparan kontaminan lingkungan yang berkelanjutan, perubahan keseimbangan bakteri usus akibat pola makan yang salah dan kurang.

3. Penyakit infeksi. Penyakit infeksi yang dialami anak dapat memicu masalah gizi pada anak. Penyakit infeksi menyebabkan kebutuhan zat gizi meningkat. Namun, di saat yang bersamaan juga terjadi gangguan penyerapan zat gizi. Kondisi ini, jika berlangsung lama akan menghambat pertumbuhan anak. Sebaliknya, jika anak sudah kurang gizi, mereka akan lebih rentan mengalami penyakit infeksi.

3. Lakukan Langkah Cerdas untuk Kesehatan Anak Anda

Nah! Anda sudah tahu kan apa saja penyebab anak pendek. Untuk itu, sebagai ibu cerdas, Anda harus pula melakukan langkah cerdas untuk mencegah anak pendek. Yang perlu Anda lakukan cukup 2 langkah saja:

1. Berikan gizi seimbang kepada anak. Gizi seimbang adalah pilihan makanan yang cukup dan tepat sesuai dengan usia anak. Saat anak masih berusia kurang dari 6 bulan, gizi seimbang baginya adalah dengan memberikan ASI saja kepada buah hati. Berikan makanan pendamping ASI (MP-ASI) secara bertahap sesuai kondisi anak, dan teruskan pemberian ASI hingga anak berusia 24 bulan.

ASI dan MP-ASI adalah kunci utama menyiapkan sistem pencernaan anak yang lebih sehat dan matang, sehingga penyerapan zat gizi bisa optimal dan mendukung pertumbuhan. Anak dapat dikenalkan makanan keluarga ketika berusia >11 bulan.

Menurut sebuah publikasi di laman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dalam menyiapkan MP-ASI, para ibu harus memperhatikan aspek; 1) penyiapan dan penyimpanan agar bersih, 2) jumlah MP-ASI yang cukup untuk kebutuhan energi anak, 3) konsistensi yang stabil dan tidak berubah-ubah kecuali dengan pertambahan usia anak, 4) frekuensi pemberian yang teratur, misalnya 2-3 kali saat anak usia 6-8 bulan, dan 3-4 kali untuk anak berusia >8 bulan, 5) perhatikan variasi makanan MP-ASI, harus memuat semua sumber energi, protein, lemak, vitamin, dan mineral. 6) tetap berikan ASI dan MP-ASI saat anak sakit, dan 7) manfaatkan program MP-ASI dari pemerintah.

2. Jaga kebersihan anak dan rawat dengan penuh perhatian saat sakit. Tentu sebagai orang tua tidak ingin melihat anaknya sakit kan! Untuk mencegahnya, biasakan menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) bersama anak. PHBS tidak bermakna anak dilarang bermain kotor, tapi lebih ke arah sebagai prasyarat ketika hendak mengasuh dan memberikan makan kepada anak.

Pencegahan ini sangat penting agar anak tidak mudah jatuh sakit. Akan tetapi, perlu diingat bahwa jajanan lingkungan bagi anak itu baik, karena dapat “mendidik” sistem kekebalan tubuhnya agar lebih matang.

Bagaimana jika anak sakit? Anda harus memberikan perhatian yang lebih dari biasanya, sungguh-sungguh merawatnya, dan upayakan tetap memberikan makanan yang terbaik untuk mereka. Jangan biarkan anak menderita dengan sakitnya.

Selain perhatian, konsultasi pada ahlinya adalah kunci untuk langkah kedua ini. Mengapa? Di usia-usia awal, kita sebagai orang tua masih belum tahu sejauh apa daya tahan tubuh dan sistem perlindungan yang dimiliki anak, konsultasi dengan ahli gizi atau tenaga kesehatan lainnya yang dapat memberikan solusi perawatan anak sakit.

Sumber:

  • Zamburini dkk. 2019. Stunting Is Preceded by Intestinal Mucosal Damage and Microbiome Changes and Is Associated with Systemic Inflammation in a Cohort of Peruvian Infants. Am. J. Trop. Med. Hyg. 101(5): 1009-1017.
  • Mugianti S, Mulyadi A, Anam AK, dan Najah ZL. 2018. Faktor Penyebab Anak Stunting Usia 25-60 bulan di Kecamatan Sukorejo Kota Blitar. Jurnal Ners dan Kebidanan. 5(3): 268-278.
  • WHO, PAHO. 2003. Guiding principles for complementary feeding of the breastfed child. Washington DC. U.S.
  • Sumber gambar: https://rsudmangusada.bandungkab.go.id/
Editor
Editor

Nurbaya, S.Gz., M.Gizi

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on telegram

Baca juga artikel kami yang lain: